Aku Bersumpah dengan sepenuh hati akan berbuat keonaran.!

Jalan. Berjalan kawan, hobi yang sangat populer sebelum ditemukannya kendaraan bermotor, namun sekarang sudah jarang dikerjakan oleh orang-orang. Bahkan ada yang malu berjalan karena teman-temannya memiliki kendaraan yang keren dan canggih, yah itulah alasan paling buruk untuk tidak berjalan. Jarak dari kost-an ku ke kampus kurang lebih 1Km, yah cukup berat  jika harus berjalan kaki untuk kuliah setiap hari, tapi tidak untuk aku dan beberapa temanku. Bagiku berjalan adalah seni. Seni berolahraga karena kesibukan kuliah mengganggu jadwal olahragamu, maka jalan kaki adalah seni berolahraga. Jika kau terlalu lalai untuk mengingat Sang Pencipta, maka berjalan adalah seni berzikir, dan berjalan bagiku adalah seni menikmati hidup yang rumit, dijalanan kau dapat menemukan solusi, dijalanan kau bisa bertemu penyelamat, dan dijalanan pula kau dapat meninggalkan urusan yang pelik atau kenangan yang buruk.

 

Hari itu aku memang sedang tidak ada kegiatan, dan ku putuskan untuk berkunjung ke-kost-an teman ku dikomplek perumahan Krakatau Steel. Kaos oranye bertuliskan Metallurgical Engineering,  celana panjang hitam, sendal jepit, dan jaket hijau tua, yah itulah gaya santai mahasiswa fakultas teknik semester dua yang mau jalan ke-kost-an temannya. Satu hal yang terlupa olehku, dompetku tertinggal dikamarku, maka berjalan pada hari itu adalah seni menikmati hidup yang melarat. Bercengkerama dengan temanku seharian, tak terasa senja menyapaku untuk segera mengingat Sang Pencipta dan tertuduk hina dan rendah dihadapan-Nya.  Suara jangkrik menandakan dunia malam sudah dimulai, dan aku memutuskan untuk kembali ke kost-an ku.

 

Ini mungkin bagian yang tidak bisa kuanggap sebagai kebetulan, atau ketidaksengajaan, tapi menurutku ini adalah takdir. Belum sempat aku mengucapkan salam kepada temanku, suara sepeda motor mendekat kearahku dan sosok laki-laki gelap berkata padaku ”lu mau kemana boi?, ikut gw yuk”  mulutku ingin berkata tidak, tapi dia sudah berkata lagi ”udah gak usah banyak mikir, ikut aja, oke? Cepet naek!” aku ragu, tapi aku naik sepeda motornya. Terus melaju keluar perumahan KS, lewati kampus teknik dan berbelok ke arah kawasan industri Krakatau Steel dan terus hingga jalan raya Anyer. Aku bertanya ”kita mau kemana boi?”  tapi dia hanya tertawa konyol dan berkata ”udah.. gak usah banyak tanya, ntar juga tau boi!”

 

Kira-kira satu jam setengah, aku dibuat sangat penasaran. Kemanakah aku akan dibawa? Penculikankah ini? Aku sudah siap dengan  segala kemungkinan buruk penculikan berencana. Jika ternyata temanku ingin menjualku untuk dimutasi dan diambil organ tubuhku, maka dia akan kuhadapi sebelum itu terjadi dan kulumpuhkan dia dengan jurus Bandrong yang telah diajarkan kepadaku oleh Budiman. Jurus ini sangat berbahaya, dan terbilang sangat sakti mandraguna karena jurus ini memerlukan tumbal besar untuk bisa dikuasai.  Sepuluh meter dari tempat yang kuanggap sebagai lokasi pemberhentian, terlihat kerumunan orang sudah bersiap, kuasumsikan ada sekitar dua puluh orang, banyak yang bertubuh besar memegang pisau dan kayu. Maka ku analisa, mereka adalah perompak yang profesional, pembunuh berdarah dingin, bengis, kejam, dan berbahaya. Dalam kondisi ini, maksudku kondisi yang lebih buruk dari perkiraanku, pembunuhan berencana, aku sudah siap dengan jurus sakti mandraguna. Pernafasan sudah kulakukan selama perjalanan dan sekarang siap melakukan penyerangan. Sekarang aku dan meraka hanya berjarak dua meter, maka aku sudah berada pada posisi tembak dan mereka akan menyesal telah mencoba menculik dan membunuhku, hahaaaa…. Akhirnya aku dan para perompak itu sudah saling pandang dan langsung dengan kecepatan jurus Bandrong aku berteriak ”Ciaaaaaaaatt!” dan perompak itupun berkata ”Assalamu’alaikum akhi..”

 

Dengan segera aku membatalkan jurus Bandrong, dan mengalihkan seranganku kearah pohon dan pohon itupun tumbang (hahaa.. bo’ong deng..). Aku terkejut ternyata orang-orang ini bukan perompak, mereka memegang pisau karena sedang memasak dan kayu yang dipegangnya pun itu untuk dibakar sebagai api unggun. Lalu aku bertanya pada temanku, siapa mereka? Dan temanku berkata ”meraka adalah Panitia DM1 KAMMI Cilegon, Selamat datang di Dauroh Marhalah ’Ula KAMMI Cilegon!”

 

Akhirnya, mau tidak mau aku mengikuti DM1 KAMMI. Selain tempatnya jauh dari kost-an, aku pun lupa membawa dompet maka kabur adalah keputusan paling bodoh, dan akupun terus mengikuti rangkaian kegiatan. Salah satu kesulitan menjadi orang Islam, maksudku orang Islam dengan kadar keimanan yang berantakan seperti aku ini adalah menghafal al-Qur’an dengan cepat. Aku bisa menghafal, namun jika disuruh dengan cepat maka ceritanya akan berbeda.  Push-up menjadi sarapanku karena aku lalai dalam menghafal Qur’an yang ditugaskan dalam DM1. Namun walaupun busuk begini, aku adalah anak KAMMI, aku adalah seorang muslim negarawan. Bagaimana menurutmu kawan?

 

menangkap matahari

menangkap matahari
Advertisements

7 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s