Kisah Cinta Merapi-Merbabu

Jalan. Berjalan kawan. Memutuskan untuk terus berjalan bukan hal yang mudah, karena hanya yang teguh dan bertekad baja sajalah yang mampu memutuskan untuk terus berjalan. Bagaimana hatiku tidak mencelos ketika teman-temanku memutuskan membatalkan pendakian, bayangkan boi, dua dari enam, hanya dua dari enam orang yang tetap melanjutkan langkah menuju Merapi. Tapi walau bagaimanapun aku menghargai keputusan mereka, semoga kita sama-sama bertemu dipuncak sanah. (hahaa…)

 

Gila. Entah setan dari gunung mana yang merasuki diriku, dengan budget, logistik, dan perlengkapan yang minim aku dan Taufik memutuskan tetap berangkat untuk mendaki Gunung Merapi. Dan lebih gila lagi setelah aku tahu kalau aku tidak tahu, maksudku aku dan Taufik tidak tahu bagaimana tempat yang akan kita tuju dan dengan siapa kita akan berinteraksi disanah (bodoh! Kukatakan pada Taufik..)

 

Aku dan Taufik seperti seorang suami yang dicampakan oleh isterinya, lalu dimaki-maki oleh mertuanya dan dilemparkannya asbak rokok kearah wajahku (hahaa..) bagaimana tidak, aku memakai kaos, celana yang lusuh (warnanya sudah pudar), sandal, kaos kaki, dan berkeliaran dikota membawa tas carrier. Kuberitahukan padamu kawan, jika kau melihat orang yang seperti itu di tengah kota maka bermurah hatilah kau padanya, karena dia baru saja dicampakkan oleh isterinya.

 

Jadi begini rutenya boi, dari kota Serang naek bis Murni cukup Rp 6000 (bilang aja mahasiswa) terus turun di Cikokol Tangerang. Dari Cikokol jalan dikit sampe jembatan Cisadane, nah naek bis P100 yang ke St. Pasar Senen Rp 3000. Di Stasiun Pasar Senen (emang bener-bener kayak pasar..) naek kereta yang ke Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta Rp 35.000 lah (ekonomi). Tapi jika memang tidak punya cukup uang, maka pakai kaca mata dan masker, lalu acungkan golok kearah masinis dan berteriak kalau kau sedang membajak kereta ini!

 

Stasiun Lempuyangan. Aku sms mas Ikhsan, salah satu pendaki kenalanku di Jogja.

’mas, Aku udah nyampe Lempuyangan nih, mas dmn?’ klik sent…

’Oh.. iya Aku di depan stsiun nih, aku baju merah yah..’ balesan dari mas Ikhsan

’Aku juga depan stasiun nih, aku baju kuning mas’

’baju kuning banyak, yang mana nih?!’

’baju merah juga banyak, mas yang mana?!’

’Yeee… di tanya malah nanya baik!’

’Aku baju kuning mas, lagi celingak-celinguk kebingungan nyariin mas’

Akhirnya mas Ikhsan mengenaliku, dia menghampiriku sambil tersenyum ramah dan kemudian berkata ’mas abis di campakkan oleh isterinya ya?’ rese… gw masih Jomblo.. (ngomong dalem hati)

 

Akhirnya semua sudah siap. Mungkin biar lebih asyik, aku perkenalkan teman-temanku (yang sangat baik) para pendaki Merapi. Pertama yaitu tiga makhluk cantik penakhluk gunung (he.he..) mereka adalah mba Dian, mba Zaki, dan mba Uli. Merapi bagi mba Zaki adalah pendakian pertama (kuharap sangat berkesan untuknya..). Mba Zaki dan mba Uli terlihat paling lemah diantara kita, namun aku kagum pada mereka, tak pernah keluar sepatah-katapun keluhan dari mulut mereka, hebat! Lalu mba Dian, dia naik dan turun gunung secepat dan selincah kancil yang sedang diburu oleh para pemburu. Gerakannya cepat dan spontan seperti ada bongkahan batu sebesar rumah yang menggelinding jatuh mengejar dia untuk menuruni gunung. Aku diam-diam memperhatikan kakinya dan bertanya dalam hati, mungkinkah dikakinya ada sayap? Atau sendalnya memiliki teknologi canggih sehingga tidak pernah terjatuh saat menggunakannya, beli dimana yah sendalnya?

 

Lalu ada mas Ikhsan dan mas Eri, mereka sepertinya sohib dari lahir. Berjuta terimakasih untuk mereka sebagai penunjang akomodasi pendakian Merapi. Mas Ikhsan, dia sangat ramah dan baik, banyak pelajaran yang kuambil darinya tentang saling menolong dan berkorban (dahsyaat mas!). Mas Eri, jika dia memakai tas carrier lalu memakai kaca matanya, dia ternyata mirip gurunya Goku (jin kura-kura), maka aku meminta mas Eri untuk memanggilkan awan kinton agar pendakian bisa lebih mudah. Lalu mas Eri berteriak ’AWAN KINTOON!’ maka segumpal awanpun datang, dengan spontan aku langsung loncat keatas awan tersebut, dan sial, aku terjatuh. Mas Eri hanya tertawa konyol dan berkata ’hanya orang yang hatinya suci bisa naek awan konton.. dasar bodoh!’

 

Selanjutnya adalah mas Eko, dia adalah pendaki paling keren, banyak gadget yang mendukung pendakian bahkan belakangan aku baru mengetahui kalau ada alat yang bisa menunjukan ketinggian pendakian, temperatur udara, dan penunjuk waktu dalam satu alat (gw udik banget sih..). Akhirnya aku penasaran, apakah salah satu tombol dalam tasnya bila ditekan akan membuat tas itu terbuka kemudian mengeluarkan macam-macam alat lalu mengikuti bentuk tubuhnya dan akhirnya dia berubah menjadi IRONMAN dan terbang dari puncak Merapi menuju puncak Merbabu dalam sekejap.(hehe..)

 

Lalu berikutnya adalah pendaki paling hebat dalam tim ini, mereka adalah Master Ali dan mas Gon. Awalnya aku bingung, apa yang mereka lakukan seperti menyimpan sebuah rencana tersendiri. Maka setelah langit gelap dan bulan menyala dilangit sana, aku melihat dengan aneh jari-jemari Master Ali menunjuk-nunjuk langit seperti sedang melukis langit, ternyata dia adalah seorang ahli nujum. Kusarankan pada seluruh pendaki di Indonesia, jika ingin mendaki gunung sekitar jawa sebaiknya bertanya terlebih dahulu kepada Master Ali, apakah cukup aman untuk mendaki gunung? Jika beliau menjawab ’tidak’ dan menggelengkan kepala itu artinya kau harus tetep mendaki boi.

 

Mas Gon, dia laki-laki penuh motivasi, salah satu kalimat ajaibnya ketika hendak mendaki puncak Merapi yaitu ’Percuma punya cowo ganteng kalau bukan pendaki gunung’ karena aku tidak ganteng, maka aku harus mendaki gunung sebelum mas Gon berkata kembali ’udah jelek, gak mau mendaki gunung lagi, dassar jelek!’ (hahaa..)

 

Pasar Bubrah. Keren banget boi, Pasar Bubrah berada tepat sebelum puncak Merapi. Memiliki view bebatuan cadas, besar, dan panas, sampai aku berfikir apakah dahulu Neil Amstrong ternyata tidak pernah ke Bulan melainkan melakukan syuting di Pasar Bubrah. Ini juga menjadi alasan kenapa Neil Amstrong mendengar suara azan di bulan, karena di Pasar Bubrah suara azan sangat jelas terdengar dari arah kota. Disana kalau pagi cerah maka kau dapat melihat Merbabu, Sumbing-Sindoro, dan Lawu. Kalau malem-malem cocok banget sambil denger mp3 padi Maha Dewi ’hamparan langit maha sempurna, bertahta bintang-bintang angkasa…’. Bertafakur sejenak menyaksikan sebagian kekuasan Alloh SWT, menyadari betapa lemahnya diri ini, memahami kembali siapa diri kita ini.

 

Tertegun menyaksikan Merapi berdiri tegak, bersyukur bisa mengunjungi Merapi. Di puncak Merapi, akhirnya aku mengetahui alasan mengapa Merapi masih saja berdiri tegak, perkasa, walaupun gempa, dan bumi ingin memuntahkan material vulkanik melalui Merapi itu adalah karena Merbabu terlihat sangat anggun dan cantik dari puncak Merapi. Akupun berjanji pada Merapi, akan kukunjungi Merbabu dan menyampaikan perasaan Cinta Merapi kepada Merbabu.