Raja di Rajabasa

Pria sejati, bagiku ini sangat spesial dan bukan sekedar pujian belaka. Perjalanan kali ini membawaku pada sebuah definisi sesungguhnya dari seorang pria sejati. Fakta dilapangan lebih membuatku tertarik daripada sekedar membaca definisi dari teori-teori yang ada. Maka pria sejati bagiku adalah dia yang dengan sangat suka rela menerima siapapun, memberi tanpa mengharap apapun, berkorban dengan yang terbaik, berusaha dengan tekad baja menepati janjinya, dan membantu siapapun hingga akhir. Hingga akhir aku menekankan pada kata “hingga akhir”, karena banyak orang yang membantu namun sedikit yang dengan sabar membantu hingga akhir. Dialah pria sejati itu.

 

Orang bodoh. Jika kau mengenal seseorang yang lebih memilih melakukan perjalanan jauh, sulit, dan melelahkan karena berjanji untuk bertemu seorang sahabat dan meninggalkan segala urusan kuliahnya, maka akulah orang bodoh itu. Saranku untuk semua wanita terutama muslimah, jangan pernah terlintas dalam fikiran untuk menjadikan orang bodoh itu sebagai calon suami (hahaaa..) dan aku.. biarlah menjadi orang bodoh selamanya, jika orang bodoh itu berarti berusaha menepati janjinya.

 

Menuju Rajabasa 1300mdpl, ceroboh sekali berkendara tanpa membawa jas hujan di bulan Januari, maka beruntung dalam kasus ini adalah harus berkendara berkilo-kilometer sedangkan air terus saja turun dari langit (wet..). Basah kuyup, akhirnya aku dan Haris memutuskan untuk berkunjung ke rumah salah seorang sahabat terbaik kami sekedar untuk berteduh.  Namun aku menjadi sangat merasa tidak enak ketika mengetahui bahwa sahabat kami ini sedang tidak dirumah, itu artinya akan sangat tidak meng-enakan jika harus merepotkan satu keluarga. Aku dengan segera membatalkan kunjungan ini, tapi yang membuatku terkejut adalah sahabat kami ini telah memberitahu orang rumah dan Abah sengaja berkendara menerobos hujan hanya untuk menjemput aku dan Haris.

 

Kopi dan durian, menemani aku, Haris dan Abah bercengkerama di rumah Abah yang sangat bersahaja. Selayaknya seorang ayah kepada anaknya, Abah bertanya maksud dan tujuan aku dan Haris berada di Lampung. Awalnya aku berfikir untuk tidak memberitahukan yang sebenarnya, namun aku berfikir bahwa hidupku sudah cukup sial, maka tak mau ku tambahkan kesialan lagi dengan berbohong pada Abah. Akhirnya kukatakan yang sejujurnya bahwa aku, Haris dan beberapa teman berencana untuk mendaki Gunung Rajabasa. Mendengar itu Abah langsung menghubungi koleganya di Merambung dan  meminta Pa Jarian (kuncen Rajabasa) untuk mengantarkan kami ke puncak Rajabasa.

 

Pagi-pagi sekali aku sudah siap dengan carrier dan semua perlengkapan, begitupun dengan Haris sudah siap dengan dyepack barunya. Aku dan Haris berniat pamit kepada Abah dan keluarga, namun aku dibuat terkejut dengan penampilan Abah yang sepertinya juga telah siap untuk bepergian. Aku bertanya pada Abah “Abah mau pergi kemana?”

“Abah ikut ke Rajabasa” jawabnya

Aku masih ragu dengan jawaban Abah, maka kutanya lagi

“Mau kemana bah?”

“Ikut kalian ke Rajabasa”

Menyadari hal itu aku langsung berkata “Aduh..Abah gak perlu repot-repot mengantarkan kami, insyaAlloh kami bisa jaga diri, mungkin Abah ada kegiatan hari ini atau sedang kurang fit untuk jalan jauh, sebaiknya tak perlu mengantar kami sejauh itu”

Abah hanya diam dan sibuk memakai jaket serta merapihkan tas yang sudah di siapkan untuk perjalanan ini. Aku mungkin cukup pandai untuk mengkondisikan berbagai situasi, namun dalam hal ini aku tak cukup berani dan sanggup untuk mencegah keinginan Abah. Maka aku dan Haris saling pandang dan tersenyum, dan untuk kesekian kalinya aku kembali bertanya “Abah bener mau ikut ke Rajabasa?” Abah hanya diam kemudian menatapku dan tersenyum, sebagai sesama pria aku tahu makna tatapan dan senyuman itu.

 

Gayam, lokasi meetingpoint aku, Haris dan kedua temanku yaitu Wahmi(juleha) dan bang Rozi. Aku, Juleha dan Bang Rozi sebelumnya pernah bertemu di Jambore Nasional Relawan Siaga Nusantara. Entah bagaimana bisa berkumpul kembali padahal jarak sudah memisahkan kita, mungkin persamaan akan kesenangan bertualang membuat kami bertemu kembali. Juleha, akhawat yang sangat tertarik atau lebih tepatnya ketagihan untuk berpetualang, kuharap dia tidak kapok berpetualang denganku karena Rajabasa berhasil membuatnya pucat, namun kuakui dia cukup tangguh. Bang Rozi, paling senior diantara kami secara usia dan tentu saja secara agama, banyak pengalaman mendaki yang sudah dialami olehnya, salut dengan kegigihannya jauh-jauh dari Riau hanya untuk bersusah payah mendaki Rajabasa (gilee hahaaa…).

 

Pendakianpun dimulai, dengan enam personil, aku, Haris, Juleha, Bang Rozi, Abah, dan sang kuncen pa Jarian. Rajabasa berbeda dari gunung lain, walau hanya 1300mdpl tapi pendakian melewati tiga bukit selama kurang lebih enam jam perjalanan membuat gunung ini cukup menantang untuk dikunjungi. Tidak seperti gunung lain yang sudah banyak jalur pendakian, Rajabasa lebih seperti puzzle yang belum selesai disusun atau mungkin seperti labirin, vegetasi yang rapat membuat siapapun bisa saja tersesat di gunung ini. Bagi siapapun yang ingin mencoba mendaki Rajabasa maka dia harus siap dengan serangan dari dua makhluk penghisap darah. Mendaki di musim hujan berarti siap perang dengan puluhan Pacet yang haus darah segar, lalu dimalam hari peperangan belum selesai makhluk ini lebih ganas dari pacet yaitu Nyamuk hutan dengan gigitan yang tajam dan ukuran yang cukup besar… (hahaaa…. gue gilaaa…)

 

Amazing. Walau tantangannya cukup banyak, namun kesan petualangan cukup setimpal. Jika beruntung kau akan berkunjung ke Batu Cukup, batu ajaib yang menurut orang-orang hanya cukup untuk dinaiki enam orang tapi beberapa pendaki membuktikan cukup hingga dua puluh orang, maka sesuai namanya batu cukup, selalu cukup berapapun jumlahnya. Lalu pemandangan garis pantai lampung barat hingga pelabuhan Bakauheni dan samar-samar terlihat pelabuhan Merak di Pulau Jawa jika langit cukup cerah. Amazing.

 

 

Akhirnya kami sampai di kawah Rajabasa, berkemah tepat di samping  Batu Cukup. Abah dan pa jarian hanya mengantarkan sampai kawah, sedangkan aku dan kawan-kawan bermalam di Kawah Rajabasa. Berjuta terimakasih kusampaikan pada Abah, walau baru pertama kali bertemu, aku sudah diperlakukan seperti anaknya sendiri bahkan di antar hingga Kawah Rajabasa. Dari pendakian inilah aku mendapatkan pelajaran paling berharga dan akan terus kusimpan dalam peti harta karun petualanganku. Pelajaran tentang membantu hingga akhir, maka Abah adalah orang yang kumaksud pada paragraf pertama catetan ini.

 

aku & Abah

 

Tersesat. Belum dikatakan mendaki gunung Rajabasa jika kau belum pernah tersesat di gunung ini. Sudah kukatakan tadi bahwa gunung ini lebih mirip puzzle yang belum disusun atau labirin yang terus berubah-ubah. Perjalanan pulang tak semulus ketika mendaki kemarin, Abah dan Pa Jarian sudah turun lebih awal.  Entah dimana aku salah melangkah, tiba-tiba saja jalur hilang dan sadarlah kami bahwa kami benar-benar tersesat. Terus berusaha menemukan jalan kembali, tapi tetap saja sulit vegetasi yang rapat membuat sulit untuk membedakan jalur. Maka aku pasrah dan berdoa kepada Raja seluruh alam, Raja dirajabasa, Alloh swt. Satu jam lebih berlalu akhirnya kami menemukan kembali jalan yang lurus. Senyum – Syukur.