crime at school (jilid II)

Aku sangat bersyukur, kehidupanku selama sekolah di SMAN 5 Tangerang tidak terlalu membosankan. Ada saja hal-hal konyol dan sedikit beresiko yang aku dan teman-temanku lakukan. Setelah kejadian hilangnya bendera, omJuned sekuriti sekolahku sering berjaga-jaga didepan ruang Wakasek, dan rekannya om Juned, Mang Fadhil tetap berjaga dipos depan gerbang sekolah.Tingkat keamanan sekolahku cukup canggih, hampir tak ada orang yang mampu menembus keamanan sekolahku, siswa-siswa nakal yang mencoba kabur dari sekolah saat jam belajar tak mungkin lolos dari mata sekuriti sekolah. Waspadalah!

Teman-temanku disekolah cukup unik dan beragam, ingin melihat siswa yang cerdas dan rajin beribadah, tentu saja Salpian sang ketua Rohis adalah figur yang pantas untuk kata cerdas dan rajin ibadah. Sebaliknya siswa paling mengenaskan keadaan akademiknya dan tidak terlalu rajin beribadahpun banyak dijumpai, nyampah! Hafid, dia siswa yang terkenal dengan reputasi tersebut, bahkan sebagian guru sudah menandainya sebagai siswa paling bengal disekolah ini. Dan sungguh sial, aku satu kelasdengan Hafid, aku merasa akan ada kolaborasi antara aku dan Hafid dalam kriminalitas disekolah.

Tiap pagi, sambil berjalan dikoridor sekolah, aku selalu dengan rutin membaca berita-berita yang ada dimading sekolah. Adaberita yang cukup membuatku geli ketika membaca Headline-nya tertulis begini :

“HEBOH! Misteri Hilangnya Bendera Merah Putih.

Dibatalkannya Upacara Bendera”

Sedikit kubaca berita tersebut dikatakan bahwa pelakunya mungkin siswa paling bengal disekolah, yaitu Hafid,dalam hati aku berkata ‘sungguh malang Hafid dituduh dengan kejam, dia memang bengal tapi tak cukup cerdas untuk melakukan hal itu’ aku lalu beralih ke berita yang lain, ada artikel cukup menarik yang ditulis oleh Salpian sang ketua Rohis, ada kalimat menarik dari artikel tersebut ‘Orang yang melanggar aturan itu sampah, tapi dia yang tidak peduli terhadap temannya itu lebih rendah dari sampah’ memang hebat sang ketua Rohis. Akupun hendak bergegas menuju kelas,namun ada berita menarik yang menghentikan langkahku dan kubaca dengan seksama.

“Tangerang. Pasar Kemis. Akibat curah hujan yang tinggi selama dua pekan terakhir berakibat pada meluapnya sungai Cisadane sehingga 257 kepala keluarga didaerah Pasar Kemis harus mengungsi dari rumahnya. Bantuan masih sangat minim karena akses menuju lokasibencana masih sulit ditembus….”

Aku membayangkan kalau hal itu terjadi padaku, kuharap ketua OSIS mengadakan penggalangan bantuan untuk bencana banjir.

Akupun akhirnya berada dikelasku,seperti kelas-kelas yang lain jika guru belum hadir maka aktivitas kami para siswa adalah ngobrol dan becanda. Tapi pagi itu kami sekelas dikejutkan oleh Nadia yang tiba-tiba menangis setelah menerima telepon.
”Nadia kenapa?” Tanya salah satu temanku.

Nadia hanya menangis, Mega berusaha menenangkannya dengan memeluk dan memberikan tissue kepada Nadia.

“Nadia jangan nangis, cerita aja” bujuk Mega.

Akhirnya Nadiapun bercerita dengan terisak, “Tadi gw ditelepon sama Lia temen sebangku gw yang hari ini diagak masuk sekolah hiks.. hiks.. dia bilang gak bisa sekolah lagi, rumahnya di Pasar Kemis kebanjiran, tenggelam.”

“Terus sekarang Lia dimana Nad?” Tanya Mega

“Dia sekarang lagi diposko relawan,hiks.. gw takut, tadi dia bilang semalem pas banjir dateng dia hampir hanyut dan sekarang dia terpisah dari keluarganya…hiks”

Kami sekelas terdiam, tak ada yang mampu berkata, namun akhirnya kesunyian di pecahkan oleh suara Hafid yang berkata “Oke sudah diputuskan” katanya “Gw mau ke tempat Lia sekarang, ada yang mau ikut?”

Dengan ringan dan spontan teman-temanku menyambut ajakan tersebut.

“Gw ikut”

“Gw juga fid”

“Wah kalau udah banyak yang mau ikut mending kita semua sekelas kesana aja” Hafid menambahkan, “Gimana?”

“Eh tunggu” sela Mega “Lu semua gampang banget bilang ikut, tapi gimana kita kesana, sekarang masih jam belajar, minta izin keluarpun pasti bakal dilarang kalau yang ikut sekelas”

“Hehe..tenang aja” sambil tertawa hafid melihat ke arahku “Gw tau orang yang bisa mengeluarkan kita semua dari sekolah ini sekarang juga, ya kan sef?”

Aku hanya diam sambil memutarkan pulpen ditangan kananku.

“Gw tau sef” kata Hafid “Yangbikin upacara kemaren batal itu elu kan? Sekarang gw pinta lu untuk keluarin kita semua dari sekolah untuk bantu Lia yang lagi kena musibah”

Ini bukan permintaan yang gampang, aku sangat menyadari hal itu, aku terdiam sejenak berfikir bagaimana mengeluarkan 28 temanku dari sekolah tanpa menimbulkan masalah? Setelah lima menit terdiam akhirnya aku berkata pada semua teman sekelasku, “Oke” kataku “Lu semua bersiap aja, beres-beres tas lu dan siap untuk berangkat, 15 menit darisekarang tunggu sinyal dari gw, dan untuk lu fid” aku berkata pada Hafid “Kalau lu denger sinyal dari gw yang memicu teriakan kebakaran, langsung aja lu giring anak-anak keluar sekolah, gw jamin nanti gerbang sekolah aman tanpa penjagaan Mang Fadhil dan Om Juned”

Aku langsung menuju kelas 2IPS3,dsana terdapat Bima dan Teguh yang tak lain adalah temanku dalam berbuat hal-hal yang gila. Aku menyebut mereka dengan sebutan Partner in crime, ya, mereka orang yang rela membantuku walaupun resikonya cukup berat. Kujelaskan rencanaku pada Bima dan Teguh lalu kupinta mereka untuk stand by didepan ruang perpustakaan menunggu sinyal dariku.

Sementara Bima dan Teguh menunggu didepan perpustakaan, aku menuju rumah Mang Saroni didekat WC belakang sekolah,Mang Saroni adalah petugas kebersihan sekolah dan juga orang yang selalu dipinta untuk membetulkan pipa atau keran yang bocor. Aku menemui Mang Saroni untuk meminjam bom asap yang biasa dia gunakan untuk membetulkan pipa yang bocor, bom asap dapat mengeluarkan banyak asap dan berguna untuk mendeteksi dimana terjadi kebocoran pada pipa. Sebenarnya satu batang bom asap saja sudah cukup, tapi aku meminta tiga batang bom asap agar suasana lebih mencekam.

Ini dia bagian paling seru, akusiap dengan bom asap, kunyalakan bom asap lalu kulempar kedalam perpustakaan. Dalam sekejap perpustakaan dipenuhi oleh asap yang tebal bergelung-gelung. Lalu ada yang berteriak “Kebakaraaan!” yang tak lain itu suara Bima, dsambut lagi dengan teriakan yang lain “Ada kebakaraaaaan!” yang ini suara Teguh, mereka berlari ke segala arah sambil berteriak histeris. Dramatis.

Mendengar teriakan kebakaran,semua siswa yang sedang belajar dikelas berhamburan keluar kelas, guru-guru menghentikan pelajaran, Om Juned yang sedang berjaga didepan ruang Wakasek berlari menuju perpustakaan, guru-guru pun mengerumuni perpustakaan, dan taklama datang Mang Fadhil dengan terengah karena berlari menuju perputakaan. Ini berarti gerbang sekolah sudah aman dari penjagaan sekuriti. Melihat sinyal kebakaran, Hafid menggiring teman-teman sekelasku untuk segera menuju gerbang dan keluar dari sekolah. Akupun segera menyusul mereka.

“Hahaa… bener-bener menegangkan boi” kataku.

“Gw gak nyangka 28 siswa bisa keluar dari sekolah pas jam belajar secara bersamaan” Hafid menambahkan“hehehe”

“Ayo sekarang kita ke tempat Lia,mudah-mudahan kita bisa bantu banyak” Aku mengingatkan.

Kamipun segera menuju lokasi posko relawan tempat untuk menemui Lia dan meringankan bebannya. Aku tidak bisa membayangkan apa resiko yang akan kami terima nantinya, nanti saja aku pikirkan, sekarang lebih baik segera membantu teman kami.

Aku tak menyesal melakukan semua ini, karena jika kami tidak melakukan hal ini, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada Lia dan keluarganya. Seharian dari pagi sampai malam, kami berpencar mencari keluarga Lia yang terpisah akibat bencana banjir. Ternyata Lia adalah korban selamat setelah hanyut dalam banjir sedangkan keluarganya sudah diselamatkan dengan perahu karet oleh tim SAR, dan kami berhasil mengumpulkan mereka kembali pada jam 20.00 diposko relawan dari tim SARdiwilayah Jatake, Tangerang.

***

Mugkin kau belum terlalu mengenalku kawan, nama lengkapku Yusef Cahyadi, teman-teman biasa memangilkudengan Yusef saja. Hobiku menggambar dan jalan kaki, mengambar bisa melatih daya imajinasiku sedangkan jalan kaki memang karena terkadang aku tak ada ongkos berangkat dari rumah ke sekolahku, sehingga biar lebih keren kujadikan hobi saja (hahaa..). Walaupun aku sering berbuat onar disekolah namun aku selalu memilih kelakuan nakal yang bukan sekedar nakal murahan, seperti mencontek, menggoda siswi cantik, atau mengganggu siswa yang lemah, sungguh rendah, itu kenakalan murahan.

Sekarang aku sedang menjalani hukuman, yaitu menyapu dan mengepel semua koridor sekolah tiap pagi selama sebulan. Walaupun aku lolos pada insiden bendera merah putih, tapi kejadian kebakaran bohongan itu terlalu heboh dan pihak sekolah mampu mengungkap bahwa aku otak dari kejadian itu. Aku lalu berfikir, mungkin cukup sampai dsini kelakuan nakalku, aku diajak masuk Rohis oleh Salpian, agar aku menjadi anak baik dan rajin beribadah seperti dia. Kuterima saja tawarannya, tapi jika dilain waktu ada siswa dengan masalah yang serius memerlukan bantuanku dan harus melanggar aturan, aku siap beraksi lagi bersama Partner in crime-ku.

crime at school

Meminum kopi. Sebenarnya bukan menjadi kebiasaanku, namun jika aku sedang tidak banyak aktivitas dan kegiatan tidak terlalu menarik maka kopi bisa membantu merangsang dan menjernihkan fikiran, walaupun buruk jika terlalu banyak namun efek sekundernya bisa diabaikan. Maka dalam hal ini kopi adalah penasihat pribadiku.

 

Aku termasuk orang yang sangat cepat bosan dengan rutinitas. Maka aku membagi aktivitasku berdasarkan seberapa besar resiko yang diterima. 65/20/15 maksudnya adalah 65% untuk aktivitas yang biasa saja tanpa resiko yang berarti, lalu 20% untuk hal yang unik yang beresiko ringan dan 15% untuk hal-hal luar biasa dengan resiko yang mematikan. Namun faktanya adalah tak banyak hal-hal menarik yang terjadi dikehidupan kita, dunia terlalu biasa dan orang-orang hanya bermain aman.

 

Tapi seingatku ada hal menarik yang cukup beresiko pernah  kulakukan ketika aku masih sekolah SMA. Mungkin sebelumnya biar aku jelaskan tentang aktivitas sekolahku dahulu, SMAN 5 Tangerang, seperti sekolah lainya tiap senin pagi selalu diadakan upacara bendera dengan segala peraturan yang cukup ketat, seperti berpakaian rapih dan lengkap dengan topi. Banyak siswa yang saat upacara lupa membawa topi, maka selama upacara dia akan dipermalukan dengan baris ber-shaf di depan lapangan. Sungguh memalukan.

 

Selain rutinitas belajar, siswapun bisa beraktivitas dengan memilih kegiatan ekstra kulikuler(ekskul) yang disediakan sekolah, seperti OSIS, Pramuka, Paskibra, Rohis, Teater, dan banyak yang lainya. Seperti temanku Ari, dia mengikuti ekskul teater, berperan menjadi apapun adalah keahliannya, menjadi guru, menjadi pengemis, preman, dan orang yang berpenyakit ayan pun dia bisa. Sungguh hebat.

 

 

Hari itu hari senin, aku selalu datang lebih awal karena upacara bendera dimulai pukul 7.15 dan aku sudah di sekolah pukul 6.20. Seperti aku, temanku Ari juga sudah datang dan kami biasa nongkrong dikoridor depan kelas Namun aku tak mengira kalau ketua OSIS mengajak aku untuk ngobrol diruang OSIS, maka ku ajak Ari uintuk menemaniku.

 

“Gawat boi!” kata Ahmad sang ketua OSIS.

“kenapa?” tanyaku.

“ini bakal memalukan.. ah.. sial!” dia melanjutkan, “sef, gw tau lu kamren pernah bantu anak rohis pas kotak amal hilang, dan berhasil lu temuin dengan mudah terus hari rabu kemaren juga pas konci motor si Iqbal ilang lu juga yang nemuin di kantin”
”lu berlebihan boi, iqbal emang pelupa kalo udah makan dikantin” kataku, “jadi masalah lu apa?”

“gw harap lu bisa bantu, sekarang jam 6.43 upacara jam 7.15 dan sekarang gw gk punya topi, hilang, apa kata dunia? Gw ketua OSIS, dihukum didepan lapangan karena gk pake topi, memalukan, reputasi gw jatoh!”

“kita pinjam saja ke siswa yang lain”

“gak bakal ada yang mw minjemin, karena dia bakal dihukum juga”

“beli aja”

“gw udah ke koperasi sekolah, tapi stok topi udah habis”

Aku terdiam dan berfikir sejenak.

“yang penting adalah, gimana gw terhindar dari hukuman yang memalukan ini” lanjutnya, “apapun caranya”

“oke” kataku, “gw punya rencana, ri kemungkinan nanti gw butuh bantuan lu dalam ber-akting” kukatakan kepada Ari “ yang pasti sekarang kita ke kelas 3IPS1, waktu kita gak banyak bentar lagi upacara”

 

Kami bertiga bergegas menuju ruang kelas 3IPS1. Rencana ku yang pertama adalah menyembunyikan ketua Osis, sehingga tidak terkena razia topi ketika upacara berlangsung. Salpian sang ketua Rohis itu berada di 3IPS1, tempat paling aman menyembunyikan ketua Osis adalah di sekretariat mushola Al-Falah. Aku akan meminjam kunci sekre mushola padanya.

 

Sesampainya di 3IPS1 kujelaskan semuanya dan aku ingin meminjam kunci sekre mushola.

“waah… gak bisa boi, afwan”  jawab Salpian, dia menggunakan sedikit bahasa arab, afwan yang artinya maaf.

“kenapa gak bisa boi? Pinjem sebentar dan lu gak terlibat”kataku.

“ane gak bisa bantu sef, afwan ni, kata pa ustadz klo kita bantu orang berbuat jahat maka kita juga bakal dapet dosanya juga”

 

Pagi itu aku mendapat ceramah selama 5menit, sekarang pukul 6.58 kurang lebih masih ada 15menit sebelum upacara dimulai. Aku fokus pada rencanaku selanjutnya. Dan kukatakan pada Ahmad “sebaiknya lu baris aja sesuai dengan tempat kelas lu baris mad”

“terus topinya gimana? Kalo gw kena razia gimana?”Tanya Ahmad

“tenang, udah lu baris aja, percaya sama gw, gw jamin gak bakal ada razia atau mungkin gak ada upacara bendera, hahaa” kataku dengan tenang

“tapi..”

“udah, percaya aja, kita gak banyak waktu”

“oke gw percaya sama lu sef, gw skarang baris di tempat gw”

 

7.15. Akhirnya upacarapun dimulai. Namun yang terjadi pagi itu adalah Pembina upacara yang tiba-tiba naik podium dan langsung berpidato.

“Saya sangat menyayangkan kejadian ini, dalam sejarah upacara di sekolah ini baru kali ini hal ini terjadi, saya himbau kepada semua pengurus dan pelaksana upacara bahwa saya tidak mau hal ini terulang kembali dikemudian hari” beliau diam sejenak menatap para siswa dan melanjutkan “upacara hari ini ditiadakan, terimakasih”

 

Seluruh siswa bersorak dan mereka digiring masuk kelas masing-masing.

 

9.30. Waktu istirahat, Aku bertemu kembali dengan Ahmad dikantin sekolah.

“luar biasa, bagaimana lu melakukannya boi?” Tanya Ahmad padaku

“haha.. yang penting lu gak dihukum dan dipermalukan kan? Karena upacara dibatalkan” kataku “yang pasti hal ini takan terjadi tanpa bantuan ari, ya kan ri?

Ari hanya terwata konyol.

“jadi gimana? Tolong jelasin ke gw kenapa upacara bisa dibatalkan?” Ahmad penasaran.

 

“oke biar gw jelasin, sebenernya cukup sederhana namun penuh resiko boi” kataku. “setelah lu baris ditempat lu, gw sama ari langsung bergegas menuju ruang wakil kepala sekolah, 15 menit bukan waktu yang banyak. Gw meminta bantuan Ari yang sangat pandai ber-akting untuk berpura-pura sakit ayan dan kejang didepan ruang wakasek. Melihat Ari yang tiba-tiba kejang dan ayan di depan ruang wakasek semua orang disekitar ruagan langsung mengerumuni Ari termasuk wakasek, saat mereka teralihkan itulah gw dengan cepat masuk ke ruangan dan buru-buru mengambil bendera merah putih karena kita tau bahwa bendera dengan aman disimpan di lemari wakasek. Setelah bendera gw ambil, Ari pun mengakhiri aktingnya dan bergegas meninggalkan ruangan wakasek sebelum mereka menyadari kalau bendera telah dicuri”

 

“waah.. gimana lu bisa berfikir begitu sef?” Tanya Ahmad

 

“hahaa.. gw fokus bagaimana lu terhindar dari hukuman, pertama udah berusaha menyembunyikan lu di sekre mushola tapi gagal, maka gw berfikir gimana klo upacara gak ada, maka gak ada juga hukuman, tapi bagaimana? Upacara gak bakal berjalan tanpa bendera merah putih, makanya gw mengambil bendera”

 

“sekarang bendera dimana?”

 

“di tas gw, lu yang balikin yah ntar..haha.. sementara ini mungkin Wakasek lagi marah-marah karena bendera hilang dan upacara dibatalkan”