crime at school

Meminum kopi. Sebenarnya bukan menjadi kebiasaanku, namun jika aku sedang tidak banyak aktivitas dan kegiatan tidak terlalu menarik maka kopi bisa membantu merangsang dan menjernihkan fikiran, walaupun buruk jika terlalu banyak namun efek sekundernya bisa diabaikan. Maka dalam hal ini kopi adalah penasihat pribadiku.

 

Aku termasuk orang yang sangat cepat bosan dengan rutinitas. Maka aku membagi aktivitasku berdasarkan seberapa besar resiko yang diterima. 65/20/15 maksudnya adalah 65% untuk aktivitas yang biasa saja tanpa resiko yang berarti, lalu 20% untuk hal yang unik yang beresiko ringan dan 15% untuk hal-hal luar biasa dengan resiko yang mematikan. Namun faktanya adalah tak banyak hal-hal menarik yang terjadi dikehidupan kita, dunia terlalu biasa dan orang-orang hanya bermain aman.

 

Tapi seingatku ada hal menarik yang cukup beresiko pernah  kulakukan ketika aku masih sekolah SMA. Mungkin sebelumnya biar aku jelaskan tentang aktivitas sekolahku dahulu, SMAN 5 Tangerang, seperti sekolah lainya tiap senin pagi selalu diadakan upacara bendera dengan segala peraturan yang cukup ketat, seperti berpakaian rapih dan lengkap dengan topi. Banyak siswa yang saat upacara lupa membawa topi, maka selama upacara dia akan dipermalukan dengan baris ber-shaf di depan lapangan. Sungguh memalukan.

 

Selain rutinitas belajar, siswapun bisa beraktivitas dengan memilih kegiatan ekstra kulikuler(ekskul) yang disediakan sekolah, seperti OSIS, Pramuka, Paskibra, Rohis, Teater, dan banyak yang lainya. Seperti temanku Ari, dia mengikuti ekskul teater, berperan menjadi apapun adalah keahliannya, menjadi guru, menjadi pengemis, preman, dan orang yang berpenyakit ayan pun dia bisa. Sungguh hebat.

 

 

Hari itu hari senin, aku selalu datang lebih awal karena upacara bendera dimulai pukul 7.15 dan aku sudah di sekolah pukul 6.20. Seperti aku, temanku Ari juga sudah datang dan kami biasa nongkrong dikoridor depan kelas Namun aku tak mengira kalau ketua OSIS mengajak aku untuk ngobrol diruang OSIS, maka ku ajak Ari uintuk menemaniku.

 

“Gawat boi!” kata Ahmad sang ketua OSIS.

“kenapa?” tanyaku.

“ini bakal memalukan.. ah.. sial!” dia melanjutkan, “sef, gw tau lu kamren pernah bantu anak rohis pas kotak amal hilang, dan berhasil lu temuin dengan mudah terus hari rabu kemaren juga pas konci motor si Iqbal ilang lu juga yang nemuin di kantin”
”lu berlebihan boi, iqbal emang pelupa kalo udah makan dikantin” kataku, “jadi masalah lu apa?”

“gw harap lu bisa bantu, sekarang jam 6.43 upacara jam 7.15 dan sekarang gw gk punya topi, hilang, apa kata dunia? Gw ketua OSIS, dihukum didepan lapangan karena gk pake topi, memalukan, reputasi gw jatoh!”

“kita pinjam saja ke siswa yang lain”

“gak bakal ada yang mw minjemin, karena dia bakal dihukum juga”

“beli aja”

“gw udah ke koperasi sekolah, tapi stok topi udah habis”

Aku terdiam dan berfikir sejenak.

“yang penting adalah, gimana gw terhindar dari hukuman yang memalukan ini” lanjutnya, “apapun caranya”

“oke” kataku, “gw punya rencana, ri kemungkinan nanti gw butuh bantuan lu dalam ber-akting” kukatakan kepada Ari “ yang pasti sekarang kita ke kelas 3IPS1, waktu kita gak banyak bentar lagi upacara”

 

Kami bertiga bergegas menuju ruang kelas 3IPS1. Rencana ku yang pertama adalah menyembunyikan ketua Osis, sehingga tidak terkena razia topi ketika upacara berlangsung. Salpian sang ketua Rohis itu berada di 3IPS1, tempat paling aman menyembunyikan ketua Osis adalah di sekretariat mushola Al-Falah. Aku akan meminjam kunci sekre mushola padanya.

 

Sesampainya di 3IPS1 kujelaskan semuanya dan aku ingin meminjam kunci sekre mushola.

“waah… gak bisa boi, afwan”  jawab Salpian, dia menggunakan sedikit bahasa arab, afwan yang artinya maaf.

“kenapa gak bisa boi? Pinjem sebentar dan lu gak terlibat”kataku.

“ane gak bisa bantu sef, afwan ni, kata pa ustadz klo kita bantu orang berbuat jahat maka kita juga bakal dapet dosanya juga”

 

Pagi itu aku mendapat ceramah selama 5menit, sekarang pukul 6.58 kurang lebih masih ada 15menit sebelum upacara dimulai. Aku fokus pada rencanaku selanjutnya. Dan kukatakan pada Ahmad “sebaiknya lu baris aja sesuai dengan tempat kelas lu baris mad”

“terus topinya gimana? Kalo gw kena razia gimana?”Tanya Ahmad

“tenang, udah lu baris aja, percaya sama gw, gw jamin gak bakal ada razia atau mungkin gak ada upacara bendera, hahaa” kataku dengan tenang

“tapi..”

“udah, percaya aja, kita gak banyak waktu”

“oke gw percaya sama lu sef, gw skarang baris di tempat gw”

 

7.15. Akhirnya upacarapun dimulai. Namun yang terjadi pagi itu adalah Pembina upacara yang tiba-tiba naik podium dan langsung berpidato.

“Saya sangat menyayangkan kejadian ini, dalam sejarah upacara di sekolah ini baru kali ini hal ini terjadi, saya himbau kepada semua pengurus dan pelaksana upacara bahwa saya tidak mau hal ini terulang kembali dikemudian hari” beliau diam sejenak menatap para siswa dan melanjutkan “upacara hari ini ditiadakan, terimakasih”

 

Seluruh siswa bersorak dan mereka digiring masuk kelas masing-masing.

 

9.30. Waktu istirahat, Aku bertemu kembali dengan Ahmad dikantin sekolah.

“luar biasa, bagaimana lu melakukannya boi?” Tanya Ahmad padaku

“haha.. yang penting lu gak dihukum dan dipermalukan kan? Karena upacara dibatalkan” kataku “yang pasti hal ini takan terjadi tanpa bantuan ari, ya kan ri?

Ari hanya terwata konyol.

“jadi gimana? Tolong jelasin ke gw kenapa upacara bisa dibatalkan?” Ahmad penasaran.

 

“oke biar gw jelasin, sebenernya cukup sederhana namun penuh resiko boi” kataku. “setelah lu baris ditempat lu, gw sama ari langsung bergegas menuju ruang wakil kepala sekolah, 15 menit bukan waktu yang banyak. Gw meminta bantuan Ari yang sangat pandai ber-akting untuk berpura-pura sakit ayan dan kejang didepan ruang wakasek. Melihat Ari yang tiba-tiba kejang dan ayan di depan ruang wakasek semua orang disekitar ruagan langsung mengerumuni Ari termasuk wakasek, saat mereka teralihkan itulah gw dengan cepat masuk ke ruangan dan buru-buru mengambil bendera merah putih karena kita tau bahwa bendera dengan aman disimpan di lemari wakasek. Setelah bendera gw ambil, Ari pun mengakhiri aktingnya dan bergegas meninggalkan ruangan wakasek sebelum mereka menyadari kalau bendera telah dicuri”

 

“waah.. gimana lu bisa berfikir begitu sef?” Tanya Ahmad

 

“hahaa.. gw fokus bagaimana lu terhindar dari hukuman, pertama udah berusaha menyembunyikan lu di sekre mushola tapi gagal, maka gw berfikir gimana klo upacara gak ada, maka gak ada juga hukuman, tapi bagaimana? Upacara gak bakal berjalan tanpa bendera merah putih, makanya gw mengambil bendera”

 

“sekarang bendera dimana?”

 

“di tas gw, lu yang balikin yah ntar..haha.. sementara ini mungkin Wakasek lagi marah-marah karena bendera hilang dan upacara dibatalkan”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s