Volunteer + Mountaineer = VolunTaineer

Ini sudah sampai pada tahap yang cukup serius, walaupun efek sekundernya bisa diabaikan, namun akan berdampak secara permanen pada tubuh.Mengikuti nasihat seorang sahabat, aku memilih berpuasa mengkonsumsi kafein.Berminggu-minggu tanpa kafein, membuatku sakit, mungkin ini yang dsebut dengan kecanduan, untungnya hanya kafein. Aku berfikir, mungkin sedikit kegiatan pengalihan dapat merehabilitasi diriku secara natural. Dan beruntungnya diriku, seorang sahabat relawan mengajak diriku untuk membantunya dalam kegiatan ’Sapu Bersih Gunung’ memperingati Hari Relawan Nasional di Cikuray-Garut.

Sebenanya tidak sesederhana itu, kegiatan ’Sapu Bersih Gunung’ ini sedikit-banyaknya aku menyumbangkan ide secara mendasar. Berawal dari kegemaran dan kecintaan terhadap alam, terutama gunung, dan seringnya naik turun gunung memunculkan sebuah pertanyaan ’untuk apa semua ini (naik gunung) dilakukan? Kemana hal-hal ini bermuara?” jika memang atas dasar mencintai alam, maka konsep cinta alam yang sebenarnya adalah berbagi terhadap sesama.

Sebuah konsep yang menyatukan antara volunteer dan mountaineer,yaitu voluntaineer. Mencintai alam bukan hanya berbagi waktu dengan alam tapi berbagi dengan sesama juga bagian dari mencintai alam dalam level yang sesungguhnya, karena kita semua adalah bagian dari alam. Jadi beginilah konsepnya, memperingati Hari Relawan Nasional dengan aksi long march di alun-alun kota Garut lalu berangkat menuju salah satu desa di kaki gunung Cikuray, membagikan kornet dan alat tulis, serta sebar nasi bungkus, lalu langsung naik Gunung Cikuray dan turun gunung sambil sapu bersih gunung.

Cikuray. Gunung tertinggi di Garut setelah Papandayan dan Guntur, kurang lebih 2818mdpl. Gunung dengan view kebun teh,hutan tropis, track yang merupakan perpaduan dari tanah, akar pohon, dan bebatuan, lalu awan kinton bergelung-gelung di puncaknya. Bukan gunung yang mudah ditakhlukan, empat atau paling lambat enam jam perjalanan menuju puncaknya, tanpa sumber air setelah pos1, walaupun sebenarnya sumber air bisa dicari oleh seorang dengan ’mountaineering ability” yang hebat,namun sangat tersembunyi jauh dari jalur pendakian.

***

Special. Pendakian kali ini sangat spesial, tiga puluh tiga orang yang entah dari mana asalnya aku tak tahu, memakai kaos oranye yang dipunggungnya jika hari sudah gelap maka akan muncul cahaya efek dari fluorescent yang bertuliskan ’Relawan’sungguh keren. Kami hampir tidak pernah bertemu sebelumnya, hanya kami memiliki kesamaan, sama-sama punya kaos oranye yang sama, sama-sama punya kegiatan yang sama tiap bulan, jadi walaupun awalnya tidak saling kenal, tapi pas bertemu kami sangat akrab seperti bertemu saudara jauh. It’sso special.

29 Des2013, dini hari, aku sudah diganggu oleh bunyi handphone, dan tanpa pikir panjang langsung kutekan tombol silence dan handphone-pun berhenti bernyayi. Beberapa menit kemudian ada pesan masuk ”kak yosep dimana? Buruan ke mesjid agung garut!! Jangan tidur.. awas..” pesan dari Dwi, salah satu orang yang bertanggungjawab untuk kegiatan ini. Tanpa pikir panjang lagi, akupun melanjutkan tidur. Walaupun masih terdengar suara pesan masuk berkali-kali.

Briefing. Merasa bersalah karena menghiraukan suara telpon dan sms , aku buru-buru menuju mesjid agung Garut setelah sholat subuh. Dan langsung menggelar briefing yang dipandu oleh Dede, relawan RZ Depok sekaligus kenalan sebelum kegiatan benar-benar dimulai. Jadi begini hasil briefing-nya:

-Jam 8.00 tepat saat momen car  free day kami long march di sepanjang alun-alun garut sampai jam 9.00 –Jam 9.00 sampai jam 10.00 perjalanan baksos dan langsung kebasecamp pendakian gunung Cikuray –istirahat-jam11.00 start nanjak gunung Cikuray. Sungguh rencana yang matang (hahaaa..).

Long march. Ini mungkin bales dendam (haha..)karena aku menghiraukan telpon dan sms tadi malam, aku ditinggal oleh rombongan, karena harus mengambil beberapa barang-barang dan menyiapkan beberapa hal (nyari sarapan, nyari tukang soto juga).

Terlantar. Harusnya jam 9.00 sudah berangkat menuju lokasi baksos, karena salah satu agen transportasi kami tiba-tiba membatalkan kesepakatan jadinya jam 10.56 kami baru berangkat dengan dua mobil pick-up yang kami bajak dari anak-anakKAMMI Garut.

BAKSOS. Bagi-bagi kornet super qurban, beberapa alat tulis dan sebar nasi bungkus, disalah satu desa tepat dikaki Gunung Cikuray,Cilawu. Sudah kukatakan diawal bahwa ini bukan sekedar pendakian biasa, ini voluntaineer, para relawan yang jadi pendaki, maka dsinilah letak perbedaannya.

Nanjak. Dengan track akar-akar pohon yang kusut, tanah, dan sedikit bebatuan membuat kami semua harus memasang gear 4wd (tangan+kakiikutan nanjak) dan semua rombongan lebih mirip spiderman daripada pendaki.

Yang berkesan. Pertama adalah relawan asal depok dan jaktim, aisah yang biasa dipanggil ica dan mega, mengikuti jejak mereka selama pendakian adalah istigfar setiap saat (hahaaa… tobat gue) mereka emang secara fisik belum berpengalaman naek gunung (jadi wajar deh.. butuh pembiasaan). Aku tak menyalahkan mereka, justru bersyukur bisa berkenalan dengan mereka karena telah memberikan pengalaman baru. Pendakian terlama dengan track yang tidak terlalu jauh. Setelah kupikir agak lama akhirnya kukatakan pada mereka

”ica, mega,berhenti dulu, ada sesuatu untuk kalian”

”apa itu kak?” tanya ica,

”?” walau tanpa suara, wajah mega  menunjukan raut tanda tanya.

Dengan nada dramatis, dan sedikit horor karena hari sudah mulai gelap kukatakan pada mereka

”ada sesuatu untuk kalian, ini dia rahasia para pendaki handal, rahasia para pendaki hebat.. hahaaa, rahasia yang bisa bikin kalian jadi jago naek gunung”

Ini dia momen yang seru, menikmati wajah mereka yang capek, penasaran, dan sedikit kesan horor (hahaa..) sambil aku mengeluarkan bungkusan dan pisau.

”apa itu kak? Gak mau ah.. serem..” kata ica

Tak peduli,kuberikan saja pada mereka

”ooOOh..jeli, rahasia pendaki apanya… ini cuman jeli biasa..”

”udah makanaja, ini emang jeli, bukan jeli biasa ini jeli super hahaa.. abis makan jeli InsyaAlloh, gunung manapun bisa kalian daki”

Benar saja setelah beres menikmati jeli, mereka nanjak gunung dengan energi yang baru.yeeaAA…!

Yang ke-dua.Ahmad, KAMMI Garut, Relawan Indonesia, berjuta terimakasih untuk mereka yang sudah membantu pendakian ini. Untuk sekre KAMMI yang diambil alih selama kami di Garut, untuk mobil pick-up yang disiapkan, untuk bantuannya memandu dan meringankan beban pendakian dan hal lainnya yang gak bisa disebutkan. Godbless you.

Yang ke-tiga. Together we strong, baju punya mba Ningsih alias N.N.G, melihat tulisan itu jadi sedikit bertambah semangat (hahaa.. bo’ong deng..) saran buat mba Ningsih, kalo naek gunung pake sepatu yang ada giginya, biar tidak gampang terjatuh ketika berpijak karena ada gigi yang menancap di tanah.

Yang ke-empat. Aji, relawan asal Jaktim yang di tawarin pisang gak mau, tapi akhirnya mau juga makan pisang bareng tapi tetep gak bisa jawab tebak-tebakan ’apa bedanya manusia sama monyet kalo lagi makan pisang?’ nah loh( .. hahaa). Berharap bisa nonton filem 3D bareng di rumah keong taman mini indonesia indah. Lalu Koordinator relawan Jaktim, atikah, yang mentang-mentang tendanya baru terus nyebut ’pasak’ aja jadi ’pancong’ (hahaa.. emangnya kue pancong).

Harimau. Ini perjalanan malem, sekitar jam 11 malem,aku dan a’yuda masih mendaki. Antara pos 6 dan pos 7 tepatnya di pos 6,3 akudan a’yuda mendengar suara makhluk yang sedang beraktvitas di hutan, bunyi gemerisik pepohonan dan patahan ranting,

sresek..sresk..krak..tak

a’yuda menghentikan langkah

”apa tuh a?” tanyaku

”wah gak tau tuh”

Tak lama stelah itu, langsung terdengar suara mengeram yang sangat jelas, horor.HhhrRRRrrrrgh….

”astagfirullah..kayanya harimau nih sef”

”astagfirulloh,yang bener a?”

A’yuda diam, waspada, kami mematikan senter beberapa saat, dan mencoba menghilangkan keberadaan seperti dalam film hunterxhunter. Setelah merasa sudah cukup aman,kami menyalakan senter kembali, dan dengan waspada melanjutkan perjalanan. Horor.

Beruntungnya kota Garut, dijaga oleh tiga bersaudara yang saling menguatkan. Cikuray –Guntur – Papandayan, ketiganya berdampingan berbaris membentuk sebuah contour harmonisasi yang natural. Di puncak Cikuray, 2818 mdpl, Cikuray berkata padaku agar menyampaikan salamnya untuk Guntur dan Papandayan, dengan berat hati aku katakan bahwa mungkin bisa kusampaikan pada Papandayan besok, namun aku belum sempat menemui Guntur, mungkin diwaktu yang lain. Dan setelah turun dari Cikuray, aku langsung menuju Papandayan hanya untuk menyampaikan salam persahabatan mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s