crime at school (jilid III)

(ini fiksi belaka.. kalo ada yg mirip, berarti kita jodoh… lagi belajar bikin cerita detektif, sebagian masih meniru karya termahsyur Sir Arthur Conan Doyle,, mohon masukannya)

 

Banyak kebiasaan buruk yang belum bisa aku hilangkan, entahlah ada beberapa atau banyak orang yang terganggu dengan kebiasaanku yang ini. Seperti ketika aku mengerjakan sesuatu, atau menyelidiki beberapa hal, maka aku hampir tidak mau diganggu, bahkan kalau perlu aku akan membungkam semua orang bodoh yang banyak bicara disekelilingku.

 

Temanku di Kota Cilegon, dia selalu mengunjungiku di akhir pekan,mungkin dia atau hanya dia yang mampu bertahan dengan begitu banyak kebiasaan buruk-ku. Mei 2013, aku tertidur ketika Aldi masuk kekamarku.

“Astagfirulloh, Yosef!,lu harus bangun, apa-apaan kamar lu ini?!’ Aldi berdiri membuka pintu ‘Kamar lu lebih buruk dari pada kapal pecah, semua barang-barang ini sangat kacau dan berantakan, apa yang lagi lu kerjain boi?”

 

Aku terbangun, “Sekarang jam berapa?”

“jam 8.00 siang sef,  kayanya 3 kg ya?”

“Tepatnya 2,7 kg, berat badan gue turun”

“Gue udah sering kekamar lu sef, awal gue kenal lu mungkin seorang perempuan terhormatpun bakal terpukau dengan kamar lu yang rapih dan bersih. Tapi sekarang, lihat, kamar lu lebih cocok kaya kapal bajak laut yang karam di dasar laut!”

“berarti lu belum mengenal sifat gue yang lain…”

“ayolah sef, kembali jadi diri lu yang….”

“justru ini gue yang sebenarnya”

 

“coba liat, emangnya kaleng mentega tempat yang cocok untuk menaruh dokumen penting penghargaan dari salah seorang klien, atau sepatu pemberian komunitas pendaki adalah tempat yang baik untuk menaruh kopi lampung yang biasa lu minum? Belum lagi, lihat kenapa anak panah dart tertancap di plafon kamar lu? Dan astagfirulloh, lu merokok sef?! Bukannya lu udah berhenti merokok? Lu benar-benar udah berantakan!”

 

“semua itu gak penting, Aldi, tapi untuk bungkusan dan abu rokok di meja itu justru sangat membantu gue di, kasus terakhir yang terjadi bisa terpecahkan karena rokok dan abunya. Lu harus tau, bahwa tiap merk rokok punya karakter abu yang berbeda, gue nemuin abu rokok di beberapa lokasi kejadian pencurian dan setelah penelitian gue yang mengikuti metode salah satu detektif terkenal, membeli semua merk rokok dan membakarnya satu persatu, akhirnya gue bisa mengidentifikasi abu rokok yang gue temuin dan cocok dengan rokok yang selalu di hisap oleh salah satu tersangka pencurian lalu dengan beberapa bukti maka pelaku pencurian itupun ditahan oleh pihak berwajib.Tapi yang mengejutkan, Aldi, ternyata abu rokok beberapa merk  memiliki kesamaan yang sangat sulit gue bedain, itu karena merk itu berada dalam satu perusahaan yang dipimpin oleh satu orang, konspirasi. Maka mereka yang suka merokok terutama dengan merk itu adalah orang-orang tolol yang sudah menjual dirinya untuk diperbudak.”

 

“Sef..sef.. ceramah yang hebat, lalu ini apa?” Aldi memegang kotak bingkisan.

“itu jam tangan digital, Casio, pemberian dari keluarga korban pencurian, jam yang canggih, lengkap dengan indikator altimeter, termometer, barometer,dan ada kompas di bagian tali jamnya. Mereka tau kalau gue suka naek gunung.”

 

Aku mencuci muka dan membuat dua cangkir kopi, mempersilakan Aldi untukmenikmati kopi dan roti bakar buatanku. “lu lagi sibuk apa akhir-akhir ini di?” aku membuka obrolan kembali.

 

“yah.. sekarang gue lagi bikin beberapa lukisan dan poster yang bakal gue pajang dipameran kesenian kampus, beberapa hasil coretan tangan dan yang lainnya dibuat secara digital.”

“Senin sampai Rabu pekan depan, bisa lu temenin gue? Satu kasus di Tangerang menunggu untuk diberesin, gimana?’ Aku mengeluarkan beberapa dokumen danfoto-foto terkait kasus itu. ‘coba lu baca dan periksa dokumen ini di”

 

Sambil melihat dokumen, Aldi membacakan kembali detail kasus itu, “Kasus anak hilang, anak yang malang, Sofi 17 tahun meninggalkan rumah tanpa izin dan pemberitahuan kepada orang tuanya, setelah diselidiki ternyata Sofi berada disalah satu sekolah tinggi di Jawa Timur. Yang membuat sekolah itu mencurigakan adalah pihak sekolah tidak mengizinkan Sofi dikunjungi oleh orang tuanya, namun orang tuanya berhasil membujuk pihak sekolah dan Sofi bisa dikunjungi dengan pengawasan dari pihak sekolah.’ Aldi melihat ke arahku ‘sekolah apaan nih sef? Gak beres”

 

“Sekolah tinggi berkedok pengajaran agama, di Indonesia banyak banget aliran sesat berkedok ajaran Islam, gue khawatir sekolah itu salah satunya. Dan parahnya Sofi menolak untuk di ajak pulang oleh orang tuanya bahkan menyalahkan mereka karena tidak memahami keinginannya. Dugaan sementara gue, Sofi mengalami pencucian otak, atau terlalu banyak doktrin negatif sehingga secara sadar melawan orang tua dan justru merasa bangga dengan keputusannya meninggalkan orang tuanya.”

 

“wah, ini bakal sulit sef, gue gak yakin Sofi mau lu ajak pulang, atau lu mau paksa dia pulang? Justru itu cara paling bodoh.”

 

“dia bakal pulang dengan sukarela, atau bakal gue buat dia pulang dengan keinginannya sendiri”

Dengan nada yang mengejek, Aldi berkata “kalau gitu,  gue mau melihat kegagalan elu, hahaa” Aldi tertawa tidak yakin dengan apa yang kukatakan.

 

***

 

Tangerang. Cuaca yang cerah untuk piknik atau sekedar jalan-jalan menghilangkan penat, tapi tidak untuk saat ini, aku dan Aldi sedang menuju rumah Pak Rizal orang tua Sofi. Kami naik angkot R.07 jurusan Pasar Malabar-Binong, aku lebih memilih naik angkot karena itu cukup murah dan agar penyelidikanku tidak terdeteksi oleh siapapun.

 

“Jadi, apa rencana lu sef?” Aldi membuka obrolan.

“rencana apa?”

“Bagaimana lu membuat Sofi pulang dengan sukarela? Padahal kondisinya justru Sofi yang meninggalkan rumah dengan sendirinya, jadi gak bisa dibilang penculikan.”

“Sebenernya gue gak mau ngobrolin itu sekarang, lu tau beberapa bulan lagi Metallica mengadakan konser di Indonesia, klo lu gak terlalu sibuk, kita nonton bareng, gimana? Pasti lebih seru dari pada konser Gun’s n Roses kemarin.”

 

“sef, bukannya lu harus mikirin gimana caranya bisa menyelamatkan Sofi?”

“yah sebenernya gue udah ngerancang sekitar sembilan rencana, tapi gak berguna juga kita ngobrolin itu sekarang, masih banyak data yang harus kita dengar dari Pak Rizal. Menyusun rencana dengan data yang belum lengkap, sama aja merencanakan kegagalan, karena dengan data yang lengkap gue bisa milih mana rencana yang tepat.”

 

“hmm,, kalau gitu sebaiknya lu pesen dua tiket untuk konser Metallica, dan siap-siap turun karena sebentar lagi kita sampai diperumahan Binong,”

 

 

(BERSAMBUNG…. sampe penulis mood lg untuk nulis hahaa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s