Petualangan Black Seals

ITINERARIUM

Panggilan untuk semua crew Black Seals, dan gak ada panggilan kedua.

Anggota crew Black Seals yg saling berdekatan bisa berangkat bareng, tapi bagi yg jauhmeeting point kita di terminal Kampung Rambutan

18 April 2014

09.00————meeting point @terminal Kampung Rambutan

09.00-14.00—–Berangkat naek bis ke Garut—Terminal Guntur

14.00-16.00—–terminal Guntur —.Cisurupan

16.00-17.00—– Cisurupan — Pos Awal Pendakian (registrasi oleh Kapten)

18.00————- Sholat Maghrib + Istirahat + Pack ulang (klo diperlukan)

19.00-21.00—– Posawal–>Gober Hut (camp di gober hut atau klo cepet kita camp di pondok salada)

21.00———— diriin tenda + makanmalam + minum kopi + ngobrol-ngobrol

19April  2014

03.30-04.00—–Qia Al-Lail (kalo pada kuat)

04.00-05.00—–Sholat subuh

05.00-07.30—–Masak-masak Sarapan

07.30-11.00—–Tracking Pondok Salada-Taman Edelweis-Tegal Alur-Death forest

Pondok Salada tempat camp assik, lanjut nanjak bebatuan terjal kemiringan 30-45 derajat dan sampei di padang edelweiss yang inshaAlloh lg mekar di bulanke-empat. Santai bentar nyeruput kopi hitam kafein tinggi dan buka bekal bajak laut di Tegal Alur. Lanjut dari tegal alur menuju hutan mati, hutan dengan pohon yang sama sekali gak ada daunnya, mati akibat dilewati aliran lahar dingin pada erupsi 2002 lalu, foto-foto bareng disana menikmati sejuk angin dan hangatnya matahari Garut. Udah puas foto-foto balik ke camp lagi.

11.00-12.30—–Istirahat Sholat + Makan siang Bajak Laut

12.30-13.30—–Packing + Beres-beres

14.00-16.00—– Turun Pondok Salada–>PosAwal

16.00-18.00—–PosAwal—>Cisurupan

18.00-20.00—–Cisurupan—>Terminal Guntur

20.00—- Terminal Guntur—Pulang

20 April 2014

07.00—- Udah di rumah bisa recovery fisik dan mental

PERKAP

  1. Sepatu dan kaus kaki
  2. Ransel / cariel beserta Coverbagnya.
  3. One day pack (ransel/tas kecil untuk mobilitas jarak pendek)
  4. Senter dan batere (cadangan)
  5. Ponco atau raincoat.
  6. Matras.
  7. Sleeping bag
  8. Jaket tebel.
  9. Topi rimba (buat gaya)

10.  Tempat minum.

11.  Obat-obatan pribadi (P3K set).

12.  Pisau saku. .

13.  Tissue gulung dan tissue basah (untuk membersihkan perangkat makan-minum bila tidak ada air, dan alat bersih diri habis buang air besar).

14.  Sandal jepit.

15.  Kaus tangan.

16.  Personal higiene : sikat gigi, odol, sabun mandi

Kelompok

  1. Tenda
  2. Korek api dalam danlilin.
  3. Kompor (paraffin/gas/spiritus)
  4. Bahanbakarnya (gas/paraffin/spiritus)
  5.  Nesting

PAKAIAN

  1. Celana panjang.
  2. Kaos/t-shirt.
  3. Jaket (tahan air).
  4. Sarung tangan
  5. Kaos kaki
  6. Pakaian ganti
  7. Slayer (waspada gas Sulfur)

FIRST AID KIT

  1. Betadine.
  2. Kapas.
  3. Kainkassa.
  4. Perban.
  5. Rivanol.
  6. Obatmaag.

SURVIVAL KIT

  1. Kompas
  2. Tali
  3. Pisau
  4. Alat komunikasi (HT, sekarang: HP ,pejer juga boleh klo masih ada).

Lain lain.

  1. KTP atau KartuPelajar
  2. Uang lebih buat jaga2
  3. Buku catatan perjalanan (jurnal, diary) danbolpen.
  4. Kamera dan batere cadangannya.

Biaya

* Terminal Kp. Rambutan – Terminal Guntur: Rp 42.000 (bus AC via Tol Cipularang)

* Terminal Guntur – Simpang Desa Cisurupan: Rp 25.000

* Simpang – Pos Informasi: Rp 20.000 (pick-up)

* Pendaftaran: Rp.3.000,- per orangnya

Logistik

Snack – MakananInstan – Roti – Air Mineral – Kopi Hitam – Cemilan Manis – dll

Advertisements

Catatan Relawan [the wiroggs]

(catetan relawan RZ cilegon)

Agus sangat bahagia, banyak orang yang berbahagia hari itu, tapi bagiku mungkin dialah satu-satunya orang yang lebih berhak untuk bahagia.

“Selamet bro,akhirnya lu jadi sarjana teknik..he” kuucapkan selamat kepadanya, sambilmenjabat tangannya. Dilanjutkan dengan jabatan tangan yang lain para penghuni basecamp relawan RZ sambil mengucap selamat dan do’a.

Tidak berlebihan jika kukatakan bahwa dialah yang lebih berhak untuk bahagia, karena baginya berkuliah, menjadi relawan, menjadi sarjana, adalah mimpi kosong bagi orang sepertinya. Siapa yang menyangka? Anak kecil, dekil,bau, dan ingusan ini akan berbahagia, bahkan anjing-anjing buduk di Kampung Onyam meragukan anak ini.

Berasal dari keluarga yang sangat miskin, kukatakan sangat miskin itu artinya benar-benar miskin, tinggal ditempat yang sebenarnya tidak bisa disebut rumah karena memang tidak layak jadi sebuah rumah. Dinding yang sebagian adalah kardus, sebagian papan tripleks bekas, dan apapun yang bisa dijadikan dinding, begitupun dengan atapnya terbuat dari apapun yang bisa melindungi “rumah” nya dari panas dan hujan.

Seorang ibu, bagi Agus adalah alien, makhluk asing dari salah satu planet dilangit sana, makhluk asing yang hampir tidak pernah ia rasakan kehadirannya. Sejak kecil, entah karena alasan apa dia di tinggal oleh ibunya,dan saban hari selalu dia tanyakan kepada ayahnya “Kapan ibu pulang yah?” danpak Rahmat selalu menjawab “Ibu pulang besok” terus begitu setiap kali agus bertanya. Besok demi besok agus menunggu ibunya, tak kunjung datang, rindu,diam-diam dia selalu menangis, mendekatkan kedua lututnya didadanya sambil tertunduk ia menangis, berhari-hari sepanjang minggu, hingga air mata tidak bisa mewakili perasaan sedihnya.

Ayah. Hanya seorang juru parkir disalah satu persimpangan jalan. Berhari-hari mengatur lalu lalang kendaraan, panas tidak kehujanan, dan hujan tidak kepanasan. Memiliki pendapatan standar juru parkir, sangat tidak cukup jika harus membiayai kehidupan sehari-hari dan sekolah kedua anaknya. Berangkat pagi dan pulang malam, dekil, berdebu, cuaca panas, tidak melunturkan semangatnya. Walaupun tua, lemas, tatapan matanya sayu akibat terlalu lelah, namun jiwa kuatdan tegar bersemayam didalam tubuhnya itu.

Makan. Agus kecil dan adiknya yang lebih kecil lagi, harus menunggu ayahnya pulang jika ingin makan, karena memang setelah bekerja seharian ayahnya baru mampu membelikan makanan. Pernah suatu hari Agus kecil dan adiknya menunggu ayahnya pulang, mereka ingin makan karena memang belum makan sepanjang hari. Menunggu berjam-jam, tidak juga datang, hingga hampir tengah malam ayahnya pulang dengan membawa beberapa bungkus mie instan , maka kelaparan hariitu baru terobati pada saat tengah malam. Mungkin karena kejadian makan tengah malam ini akhirnya Agus keesokan harinya mengunjungi salah satu toko kelontong dekat rumahnya, dan memohon pekerjaan dari tuan toko agar tidak perlu menunggutengah malam untuk makan.

Berjualan kue. Akhirnya tiap hari sebelum pergi ke sekolah Agus berjualan kue yang diambil dari toko kelontong. Dengan penghasilan tetap duaribu rupiah, dan selalu ia bagi dua untuk adiknya juga. Begitu ritual sebelum sekolah, setiap hari, sepanjang tahun, dari SD hingga masuk SMP terbuka.

SMP terbuka, biar kujelaskan padamu kawan apa yang dimaksud dengan SMP terbuka. Sama halnya dengan SMP lain yaitu sekolah menengah pertama, namunkata “terbuka” membuat SMP ini jadi berbeda, jam belajar yang tidak tahu kapan dimulai, ruang kelas yang tidak tahu juga apakah ada ruang kelas resminya, begitupun dengan ruang-ruang yang lain, ruang guru, kepala sekolah, tidak tahu apakah benar-benar ada atau tidak, namun yang paling pasti dari SMP terbuka ini adalah guru-gurunya, mereka nyata. Relawan pendidikan yang sebenarnya. Banyak siswa lulusan SMP terbuka ini yang tidak melanjutkan sekolah lagi, karena tuntutan pendidikan nasional dengan keadaaan sekolah yang bagaikan langit danneraka. Tapi sebuah keajaiban, dengan usaha dan bantuan berbagai pihak, Agus berhasil melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1 Curug Kab. Tangerang.

***

Entah apa yang ada dalam otak anak udik ini, mendengar ada kesempatan daftar kuliah lewat jalur PMDK diapun ikut mendaftar, karena memang nilai rapor selama SMA sangat stabil dan cenderung meningkat. Banyak kampus-kampus pilihan dengan jalur PMDK, ada IPB, UPI, UNPAD, dan kampus terkenal lainnya,namun pilihan paling rasional bagi Agus saat itu adalah UNTIRTA, kampus negeri yang murah satu-satunya di Banten. Walaupun murah, sebenarnya ayahnya juga tak sanggup membiayai, karena daftar PMDK cukup mudah, ya apa salahnya mencoba mengambil peluang.

Pengumunan PMDKpun tiba. Dengan uang pas-pasan pergi ke warnet (warung internet) melihat pengumuman secara online. Begitu membuka pengumuman PMDK, dengan spontan Agus berteriak “LULUUUUS!” tidakpeduli apakah orang-orang terganggu dengan teriakannya. Namun sesaat setelah bahagia dengan kelulusannya, Aguspun menangis, tertunduk berfikir dengan apadia membiayai pendaftarannya? Biaya orientasi, tes kesehatan, almamater, dan hal intelek lainnya yang harus dilunasi jika ingin lanjut berkuliah. Apakah sampai di sini dia berhenti, dihadapan tebing tinggi vertikal.

Seperti orang gila, kemana-mana mencari jalan agar bisa membiayai pendaftaran kuliah. Perih sekali kalau harus mengingat saat itu, akhirnya dengan sokongan teman, guru-guru SMP terbuka, guru-guru SMA Negeri 1 Curug,beberapa kerabat, akhirnya Agus memanjat tebing tinggi vertikal itu dengan perlengkapan seadanya tanpa pengaman sama sekali.

“Kamu kuliah jurusan apa gus?” Tanya Pak Rahmat kepada agus.

Industrial Engineering yah”

“apa? Coba ulangi”

Industrial Engineering

“Sunggung canggih betul nama jurusan itu, sungguh canggih!” ucap Pak Rahmat kagum sambil menggelengkan kepala.“Apakah jurusan itu mengajarkan bagaimana mengelola lahan parkir dengan baik?”

“Tentu saja yah, bahkan sistem parkiran, keamanan,sirkulasi kendaraan, kompposisi kendaraan di area parkirpun di atur dengan sangat hebat”

“sungguh canggih bukan main, sungguh canggih!” kembali Pak Rahmat dibuat kagum.

***

2009. Bergabung di basecamp RelawanRZ Cilegon. Aku sebagai salah satu penghuni pertama dan penggagas basecamp merekrut dia, karena memang ternyata dia juga sedang membutuhkan tempat tinggal di Cilegon. Menjadi anggota basecamp Relawan RZ Cilegon lebih sulit daripada DIKSAR Relawan RZ, tiap pagi harus mencuci piring milik semua penghuni, agak siang harus menyapu dan mengepel, dan harus siap jika para senior membutuhkannya untuk disuruh-suruh (hahaaa..). Namun semua itu dijalani dengan ikhlas, Agus mendapat tugas pertama kerelawanannya sebagai mentor anak juara, mengajar bimbel di basecamp, terus begitu hingga tahun 2011 dia menjadi seorang koordinator relawan Cilegon.

Sekarang. Dia masih seorang relawan aktif di Cilegon, bahkan se-Indonesia sudah mengenal relawan Cilegon dengan julukan “The Wirogs” akibat kegiatan Jambore Nasional yang kami adakan di Cilegon pada 2012.

“Sekarang kamu kerja sebagai apa gus?” Tanya Pak Rahmat kepada Agus.

Program Head Cita Sehat Foundation Cilegon yah”

“Apa? Coba ulangi”

Program Head Cita Sehat Foundation”

“Sungguh canggih nama pekerjaanmu itu, sungguh canggih!” ucap Pak Rahmat Kagum sambil menggelangkan kepalanya “Apakah jabatan itu yang mengelola lahan parkir super canggih?”

-END- ysf
poto wisudaan doi<br />( Gue - Rikar si blogger - Pa Azis sopir ambulance Cilegon - Agus - Dwi (adeknya agus yg lagi nunduk) - Faizi Relawan cabutan - Aenudin penghuni beskem - Aldi )

poto wisudaan doi ( Gue – Rikar si blogger – Pa Azis sopir ambulance Cilegon – Agus – Dwi (adeknya agus yg lagi nunduk) – Faizi Relawan cabutan – Aenudin penghuni beskem – Aldi )

aksi relawan wrgs

aksi relawan wrgs