RELAWAN ITU….

25 Februari 2014 22.18

Relawan itu, dia yang memakai kaus orange dengan efek fluorescent bertuliskan ‘Relawan’ dipungungnya, memegang Ht yang terhubung dengan Ht lainnya, memakai topi hitam mengkilat dengan tiga bintang menyilaukan, lengkap dengan celana lapangan dan sepatu safety yang kokoh. Bukan.

Relawan itu, dia yang membawa kamera DSLR super canggih, dengan lensa yang dapat membuat objek jauh tampak sangat dekat, fokus dan tajam garis-garis gambarnya, serta dyepack yang berisi macam-macam benda canggih. Bukan.

Relawan itu, dia yang berfoto bersama di depan tenda barak pengungsi yang dibelakangnya terdapat spanduk bertuliskan “Peduli Bencana” lengkap dengan berbagai pose serta sudut pengambilan gambar, dan tentu saja salah seorang korban bencana yang ikut difoto dengan wajah lugu tanpa ekspresi, dan di-upload di sosial media. Bukan.

Relawan itu… Umi Salamah

Subuh, hari ke-6 aku berada di camp pengungsi, desa kebonrejo 7km dari Puncak Kelud. Umi Salamah berkata padaku “mas hari ini saya tidak bisa bantu masak karena saya harus pulang nengok keadaan rumah”
Akupun berkata “iya ibu, tidak apa-apa, biar kami saja yang handle”
entahlah apakah dia mengerti arti kata “handle”

Umi Salamah, salah satu pengungsi korban erupsi Kelud, setiap hari membantu kami memasak, dan bisa dikatakan dialah dalang didapur umum. menu masakan serta para ibu-ibu lainnya yang digerakan dan terkoordinasi secara otomatis dibawah komando umi.

Hari itu seharusnya umi pulang menengok keadaan rumah yang hancur akibat erupsi Kelud. Namun dengan jiwa kerelawanan yang sebenarnya, umi membatalkan untuk pulang, beliau ingin membantu kami memasak, menyiapkan berbungkus-bungkus makanan.
Dapur umum ini seharusnya dapat menyiapkan 2000 paket makanan siap makan untuk pengungsi, namun karena berbagai hal, dapur tersebut hanya mampu memproduksi 1000 paket makanan siap makan.

Aku tak tahu apa jadinya dapur umum tanpa umi, mungkin semua akan berantakan, atau justru para relawanlah yang harus dibantu oleh para pengungsi.

Terakhir, umi ngobrol denganku, “mas, di kebonrejo, kami punya TPQ, saya salah satu pengurusnya, mampir mas, he…tapi mungkin sekarang kondisinya sudah agak rusak akibat hujan kerikil dan lava pijar”

Diam-diam, kami menyimpan percakapan itu sebagai sebuah permintaan.

Pulang

Pulang

Pulang

Semua orang ingin pulang

Pengembara dan petualang juga ingin pulang walau cuma sekali

Operator tungku peleburan, pedagang, pegawai, penulis, mahasiswa

Semua hati yang resah mencari jalan pulang

 

Berjalan berhari-hari ditengah teriknya matahari

Sulit menggambarkan perasaan itu

Menantang panas matahari hanya untuk membuktikan siapa yang kuat

Panasnya matahari atau tekadku untuk pulang

Derap langkah yang kian berat, keringat bercucuran, tenggorokan yang perih karena dehidrasi

Akhirnya aku sadar

Itulah jarak perjalananku pulang ke rumah

 

Ditengah perjalananku Aku menemukan diriku

Diantara pohon-pohon pinus lembah Mandalawangi

Tersembunyi dibebatuan Pasar Bubrah

Tergeletak pada ilalang Surya Kencana

Karena Aku mencari jalan yang benar

Tapi tidak ditempat biasa

 

#Perompak KAPAL
04052014-Kota Benteng

Samaran Cinta Rumah Sakit

Ini tulisan temen gue, orang paling gila, dan selalu sial gue kalo maen bareng dia.

 

Senior Mesin!

Siang itu gue lagi makan es krim paddle pop harganya 2.500 perak di kantin bu Jahro, lagi males makan siang. Lumayan juga marginnya buat makan besok. Tiba tiba dari belakang gue satu tangan nepuk pundak gue. Gue begitu khawatir itu senior mesin yang mau malak paddle pop gue. Otak gue langsung bekerja memikirkan beberapa cara yang mungkin agar gue bisa lepas dari aksi pemalakan siang itu. Mulai dari akan bilang “wah UFO, UFO tuh di langit” terus gue kabur, atau langsung setiba-tiba nangis dan bilang kalo baru aja gue diusir sama ibu kost karena belum bayar kosan 3 bulan, atau cara satu lagi yang mungkin bisa gue pakai : Penyakit Ayan!

 

Beberapa detik momen gue menoleh ke belakang daaaaaan  ternyata satu wajah yang tak asing, wajah yang tidak gue harepin kemunculannya siang itu. Orang yang slelalu menyeret gue ke dalam perkara-perkara yang tidak masuk akal! Perkara yang sebenarnya lebih baik gue jauhi!

 

Bau neraka!

Namanya memang unik Yisif, Yisif Utsmani. Pria berhidung lebar dengan senyuman konyol dan jenggot tipis di dagunya. Bocah tengik yang pernah jadi ketua kelompok di Ospek fakultas waktu itu. Di sana pertama kali gue mengenalnya. Pagi itu kami dikumpulkan di lantai pelataran aula Fakultas, berkenalan satu sama lain antar mahasiswa baru, khas : pelanga-pelongo, botak dan santun. Kami dikumpulkan bersepuluh untuk membuat kelompok. Saat tiba pada pemilihan ketua. Ya gue inget baju koko warna cokelat yang ia kenakan, dengan celana warna hitam dan tas selempang model Umar Bakri. Calm tak banyak bicara dan obral senyum! Senior setuju dan kami sepakat, akhirnya dinobatkan lah Yisif Utsmani jadi ketua kelompok gue. Walau dalam hati gue yakin manusia ini tak sebaik dari penampilannya, gue pun Curiga. Dia tersenyum dan irisnya bergerak ke atas seperti membayangkan sesuatu dan bergumam dalam hati khas di sinetron tersanjung session 7 “hahahaa ketipu luh semua, terimaksih kokoh coklat!” ya gue yakin itu yang dia omongin waktu itu. Kami terancam!

 

Benar saja di bawah kepemimpinan dia, kami jadi kelompok yang mungkin paling banyak di hukum di jalanan ketika ospek oleh senior. Yisif orang yang songong dan tidak mau diatur, pembangkang akut dan senang dengan kata ‘tidak’ pada senior. “tidak, kami tidak mau push Up!” akhirnya yah memang kami tidak push up, tapi sit up dan jalan bebek. “tidak, kami tidak mau joged!” yah kami betul tidak joget, tapi kami dipaksa mencium ketek senior selama sepuluh menit yang  sudah seperti bau neraka!

 

Lombok!

Sambil mencopot airphone nya yang gue ude bisa nebak dia sednag muterapa. Ya murottal, apalagi yang ada di playlist dia. “Boi, ayuk boi kita ke takol boi!” masih dengan senyuman konyol yang mencurigakan. “gak laper gue!” sambil menyingkirkan tangan kanannya yang besar dan agak kekar. “nemenin gua aja, pecel ayam boi”. Akhirnya sambil jalan gue melanjutkan makan es krim gue, Kami berangkat nyebrang jalan dan makan di pecel ayam. Dia mesen lengkap dengan tempe tahu. Double! Sesekali gue perhatikan kakinya yisif yang pake sendal eiger, begitu berdebu dan tampak lecet, keningnya agak aneh ditutup hendiplast.

 

“euuuuukkk” sendawa karena kenyang juga akhirnya dia. Sambil merogoh kantong celananya, gue uda siap pake tas eiger gue yang bolong pinggir ret sletingnya di bagian atas. Tiba-tiba yisif panik dan “boi, boi kehabisan duit gue boi. Bayarin gue dong” memelas dan narik narik ujung kaos oblong gue yang kerahnya uda belel dan robek robek di makan rendeman rinso. Gue diem sejenak. “entar gue ceritain kemana uang gue” yisif meyakinkan gue. Sial siang itu yah maksud hati makan eskrim agar masih ada margin jatah uang hari itu, malah yang ada gue rugi bandar. “lombok, sih kalo kaya gini gue ceritanya boi!”. “nombok boi, nombok pake N bukan lombok!” sambil nyengir menyebalkan ala hidung lebar!

 

Kami memang biasa saling traktir menraktir, kadang yisif beliin gue nasi goreng, gue nraktir teh tawarnya. Yisif nraktir bubur kacang ijo, gue yang nambahin roti tawarnya. Atau kadang yusef beliin kuku bima rasa anggur dan gue yang nyediain aer putihnya. Ya itulah kami. Hee kali ini gue kena batunya.

 

Galon si saksi bisu!

Kami memang sedang dirundung duka, kami semua ya kami anak LDK. Yah walaupun mungkin kami berdua sebenarnya tak layak dipanggil ADK. Yisif yang hampir berkeliaran di kampus dengan celana panjang-enggak pendek-enggak dan sandal eigernya. Sedang gue betah dengan jeans buluk dan kaos oblong yang kerahnya sudah rusak-rusak macam digigit anak tikus haus ASI. Tak-tak ada layak-layaknya, jika menyoal akhawat semacam tak tak akan pernah dilirik, yah mungkin saja bisa tapi sebelah mata. Seperti itulah nasip kami berdua. Pantas hanya pantas diberi lokasi dinas sebagai PU alias pembantu umum di setiap acara LDK.

 

Seperti yang terjadi pada tahun 2010. Ketika itu kami menghelat acar akbar nasional FSLDK (forum silaturrohim LDK). Semua tamu datang dari LDK penjuru Indonesia boi, hajat besar ini bagi LDK kampus kami. Sampai-sampai kami menyewa hotel untuk penginapan kontingen. Acara dipergelarkan hingga 3 hari lamanya, ikhwan ikhwan berjenggot, berkemeja rapi, berkacamata. Jika bilang semua mengguankan ana antum, haram sepertinya menggunakan kata gue, elu. Sehingga gue dan yisif harus puasa gue-elu selama 3 hari. banyak juga tamu tamu akhawat bagai bidadari seliweran di siang bolong. Tapi tak berani kami tak berani menatap-natap mereka. Alasan pertama : bisa habis kami jika ada laporan ke MR, alasan kedua tak ada ceritanya seorang budak berani menatap putri yang duduk di kursi singgasana. Cungkil mata hukumannya boi. Tak sanggup kami sungguh. Oke sudah dapat ditebak gue dan yisif berdinas di bagian logistik dan konsumsi juga pembuangan sampah acara alias tim sapu ranjau bersama kawan-kawan lainnya.

 

Tiba di penghujung penutupan yang diadakan acara makan bersama dengan menu sate Bandeng, hidangan sudah siap disantap. Semua kontingen sudah berkumpul rapi begitu juga kami yang kelelahan lengkap diiringi marawis suara perut yang kelaperan. Tiba-tiba senior LDK menghampiri kami dan meminta untuk membeli galon, karena stock air kurang untuk minum bada makan. Mau tidak mau kami berdiri dan hendak melaksanakn titah, sialnya di depan mata kepala kami sendiri mereka semua ternyata memulai makan terlebih dahulu.

 

Kesal dan sedih gue waktu itu! yisif berbisik “ayuk lah boi, gak usahlah bersedih macam begitu, semua ada waktunya, kapan tertawa dan kapan kita harus menangis”. Dengan enggan gue angkat galon dan meluncur, anehnya si yisif malah melipirr ke arah mesjid, kemudian berbelok ke tempat wudhu ikhwan. “ngapain luh boi kemari?”. “ude, elu jagain pintu WC situ jangan sampe ada orang masuk”. Gue masih bingung, kemudian yisif buka keran dan menaruh moncong galon tepat di bawah keran. Hahahaaaaaaaaaa, i got it!

 

Setelah acara makan kami siap siaga berdiri di pinggir galon dan memasang senyum lebar dan mempersilahkan setiap orang untuk mengambil minum. This is Revenge! Maka bagi semua yang merasa menjadi delegasi di Muktamar FSLDK 2010 dan sedikit mengalami gangguan pencernaan setelah pulang, mohon maaf lahir bathin. Hhhaaaa

 

Jalan Duka!

Ya, kami sedang berduka karena ada salah satu saudari kami yang orang tuanya sakit dan harus di rawat di RS. Dan perempuan tersebut bagi yisif bagai kuningnya sinar mentari yang bisa menerangi dan memberi hangat sudut hatinya. Kami semua sudah menjenguk pekan lalu, namun memang orang tua saudari kami tersebut harus lebih lama lagi menjalani perawatan intensif di sana. Hingga menyebabkan saudari kami tersebut belakangan ini sering tidak terlihat di kampus. Dan anehnya yisif baru kemarin pun tak masuk dan menitip absen ke gue.

 

Ternyata jalan duka ini yang membuat yisif harus menitip absen dan mebahayakan nyawa gue di hadapan dosen Powder Metallurgy. Yisif bercerita bahwa kemarin ia pergi ke RS yang jelas berbeda kota dengan kampus kami. Sekitar perjalanan 3 jam di tempuh dengan bis. Anehnya si bodoh ini, pergi kesana dengan sama sekali tidak menampakkan diri di hadapan si kuning sinar mentari.

 

Kacamata yang mebuat anda terlihat lebih smart di depan akhawat!

Sehari sebelumnya yisif berkutat dengan jarum dan benang kaput. Ia merombak ulang jas Lab kami untuk praktikum yang jelas di belakangnya tercetak besar nama fakultas kampus kami. Ia membalikkan tulisan tersebut agar bisa berada di balik ja. sehingga ketika dipakai jas praktikum malang itu sudah berubah menjadi jas dokter bedah jantung. Hhaahaa gila!

 

Kemudian ia mengontek kenalan kami, ssstttt orang dalam di Rumah Zakat Indonesia, orang yang bisa dipercaya dan cukup memiliki akses  untuk bisa membantunya menyelundupkan stetoscope agar bisa si sakit jiwa ini pinjam. Nanti gue ceritakan bagaimana bisa orang tersebut mau bersekongkol dengan orang macam yisif, nanti boi. Setelah berhasil menyelundupkan stetoscop dokter relawan lewat kardus kornet ditumpukan paling bawah persiapan yisif satu lagi adalah meminjam kacamata khas orang pintar. Tak perlu jauh kawan kami yang minta ampun TP (tebar pesonanya) bisa meminjamkan kacamata palsu enggak-minus enggak-plusnya miliknya itu dengan tujuan untuk mengelabui para junior akhawat agar menganggapnya sedikit smart, yah siapa lagi dia kalo bukan Diman. Diman Syuhada nama account facebooknya, syuhada itu nama tambahan gan biar keren. Yah Diman emang cool dalam soal menyoal pencitraan diri.  Selesai dengan kacamata, yisif pergi ke daerah kota pinggiran moll mayofield untuk mencari barber shop. Dia melipir dan mondar mandir di depan barber shop mengawasi keadaan dan akhirnya bisa memperoleh sejumput rambut bau yang harus ia cuci dengan rinso dan dirangkai menggunakan lem untuk dijadikan kumis palsu.

 

Lengkap, pagi buta kemarin ternyata dia sudah bertolak dari kota baja ke kota besar dimana RS itu berada. Sesampai di sana ia langsung memasuki WC menggunakan topi dan sedikit menunduk agar wajahnya terlindung dari CCTV. Dia belajar semua ini dari liputan 6 SCTV yang menampilkan rec CCTV Dr. Azhari sepertinya. Yayaa insane!

 

Tak ambil jeda lama dia berganti kostum di dalam WC dan keluar langsung menuju ke lantai 2 kamar no 139. Dengan sudah seperti bergaya dokter bedah kodok berkalung stetoscop ilegal. Ternyata pintu tertutup. Suasana sepi dan hening ketika itu jam 10 pagi.

 

Mengambil nafas, dan yisif mengetuk pintu “tok, tok ,tok” lalu membuka dan yah, kerudung lebar berwarna kuning cerah sedang duduk persisi di samping ayahnya yang sedang terbaring. “pagi dok, Asslamualaykum” sapa gadis tersebut benar-benar tak emnyadari bahwa yang ada di hadapannya itu si tengik yisif,  si dokter gadungan tersebut dengan suara diberat-beratkan membalas ucapan salam. Dan menghampiri tiang infusan dan memegang-megang kantung cairan pura-pura mengamati yang jelas padahal dia tak memahami apapun, sedikit pun. Dasar gila! Lalu yisif dengan suara yang berbeda mencoba memberi statement bagus tentang kondisi pasien kemudian pamit. Selesai yah selesai, hanya beberapa detik saja pertemuan yang dipisahkan jarak kota 3 jam itu.

 

Gue bertanya “untuk apa kau boi melakukan itu semua?” . “gue Cuma mau mastiin dia baik-baik saja di sana, tanpa dia harus tahu gue kesana dan gue orang yang selalu khawatirin kondisi dia ketika dalam situasi-situasi yang tidak menyenangkan”.

 

Terkadang kasih membuat orang bisa menjadi gila, melakukan hal-hal yang tidak masuk akal dan absurd, membuat waktu 9 detik serasa 9 jam bahkan bisa mengubah rasa garam menjadi manis! (penyakit gila No.39).

 

*cerita ini hanya fiktif, jika adanya kesamaan karakter dan latar cerita. Itu hanya ketidak sengajaan yang disadari dan disengaja oleh penulis

Petualangan Black Seals

ITINERARIUM

Panggilan untuk semua crew Black Seals, dan gak ada panggilan kedua.

Anggota crew Black Seals yg saling berdekatan bisa berangkat bareng, tapi bagi yg jauhmeeting point kita di terminal Kampung Rambutan

18 April 2014

09.00————meeting point @terminal Kampung Rambutan

09.00-14.00—–Berangkat naek bis ke Garut—Terminal Guntur

14.00-16.00—–terminal Guntur —.Cisurupan

16.00-17.00—– Cisurupan — Pos Awal Pendakian (registrasi oleh Kapten)

18.00————- Sholat Maghrib + Istirahat + Pack ulang (klo diperlukan)

19.00-21.00—– Posawal–>Gober Hut (camp di gober hut atau klo cepet kita camp di pondok salada)

21.00———— diriin tenda + makanmalam + minum kopi + ngobrol-ngobrol

19April  2014

03.30-04.00—–Qia Al-Lail (kalo pada kuat)

04.00-05.00—–Sholat subuh

05.00-07.30—–Masak-masak Sarapan

07.30-11.00—–Tracking Pondok Salada-Taman Edelweis-Tegal Alur-Death forest

Pondok Salada tempat camp assik, lanjut nanjak bebatuan terjal kemiringan 30-45 derajat dan sampei di padang edelweiss yang inshaAlloh lg mekar di bulanke-empat. Santai bentar nyeruput kopi hitam kafein tinggi dan buka bekal bajak laut di Tegal Alur. Lanjut dari tegal alur menuju hutan mati, hutan dengan pohon yang sama sekali gak ada daunnya, mati akibat dilewati aliran lahar dingin pada erupsi 2002 lalu, foto-foto bareng disana menikmati sejuk angin dan hangatnya matahari Garut. Udah puas foto-foto balik ke camp lagi.

11.00-12.30—–Istirahat Sholat + Makan siang Bajak Laut

12.30-13.30—–Packing + Beres-beres

14.00-16.00—– Turun Pondok Salada–>PosAwal

16.00-18.00—–PosAwal—>Cisurupan

18.00-20.00—–Cisurupan—>Terminal Guntur

20.00—- Terminal Guntur—Pulang

20 April 2014

07.00—- Udah di rumah bisa recovery fisik dan mental

PERKAP

  1. Sepatu dan kaus kaki
  2. Ransel / cariel beserta Coverbagnya.
  3. One day pack (ransel/tas kecil untuk mobilitas jarak pendek)
  4. Senter dan batere (cadangan)
  5. Ponco atau raincoat.
  6. Matras.
  7. Sleeping bag
  8. Jaket tebel.
  9. Topi rimba (buat gaya)

10.  Tempat minum.

11.  Obat-obatan pribadi (P3K set).

12.  Pisau saku. .

13.  Tissue gulung dan tissue basah (untuk membersihkan perangkat makan-minum bila tidak ada air, dan alat bersih diri habis buang air besar).

14.  Sandal jepit.

15.  Kaus tangan.

16.  Personal higiene : sikat gigi, odol, sabun mandi

Kelompok

  1. Tenda
  2. Korek api dalam danlilin.
  3. Kompor (paraffin/gas/spiritus)
  4. Bahanbakarnya (gas/paraffin/spiritus)
  5.  Nesting

PAKAIAN

  1. Celana panjang.
  2. Kaos/t-shirt.
  3. Jaket (tahan air).
  4. Sarung tangan
  5. Kaos kaki
  6. Pakaian ganti
  7. Slayer (waspada gas Sulfur)

FIRST AID KIT

  1. Betadine.
  2. Kapas.
  3. Kainkassa.
  4. Perban.
  5. Rivanol.
  6. Obatmaag.

SURVIVAL KIT

  1. Kompas
  2. Tali
  3. Pisau
  4. Alat komunikasi (HT, sekarang: HP ,pejer juga boleh klo masih ada).

Lain lain.

  1. KTP atau KartuPelajar
  2. Uang lebih buat jaga2
  3. Buku catatan perjalanan (jurnal, diary) danbolpen.
  4. Kamera dan batere cadangannya.

Biaya

* Terminal Kp. Rambutan – Terminal Guntur: Rp 42.000 (bus AC via Tol Cipularang)

* Terminal Guntur – Simpang Desa Cisurupan: Rp 25.000

* Simpang – Pos Informasi: Rp 20.000 (pick-up)

* Pendaftaran: Rp.3.000,- per orangnya

Logistik

Snack – MakananInstan – Roti – Air Mineral – Kopi Hitam – Cemilan Manis – dll