Samaran Cinta Rumah Sakit

Ini tulisan temen gue, orang paling gila, dan selalu sial gue kalo maen bareng dia.

 

Senior Mesin!

Siang itu gue lagi makan es krim paddle pop harganya 2.500 perak di kantin bu Jahro, lagi males makan siang. Lumayan juga marginnya buat makan besok. Tiba tiba dari belakang gue satu tangan nepuk pundak gue. Gue begitu khawatir itu senior mesin yang mau malak paddle pop gue. Otak gue langsung bekerja memikirkan beberapa cara yang mungkin agar gue bisa lepas dari aksi pemalakan siang itu. Mulai dari akan bilang “wah UFO, UFO tuh di langit” terus gue kabur, atau langsung setiba-tiba nangis dan bilang kalo baru aja gue diusir sama ibu kost karena belum bayar kosan 3 bulan, atau cara satu lagi yang mungkin bisa gue pakai : Penyakit Ayan!

 

Beberapa detik momen gue menoleh ke belakang daaaaaan  ternyata satu wajah yang tak asing, wajah yang tidak gue harepin kemunculannya siang itu. Orang yang slelalu menyeret gue ke dalam perkara-perkara yang tidak masuk akal! Perkara yang sebenarnya lebih baik gue jauhi!

 

Bau neraka!

Namanya memang unik Yisif, Yisif Utsmani. Pria berhidung lebar dengan senyuman konyol dan jenggot tipis di dagunya. Bocah tengik yang pernah jadi ketua kelompok di Ospek fakultas waktu itu. Di sana pertama kali gue mengenalnya. Pagi itu kami dikumpulkan di lantai pelataran aula Fakultas, berkenalan satu sama lain antar mahasiswa baru, khas : pelanga-pelongo, botak dan santun. Kami dikumpulkan bersepuluh untuk membuat kelompok. Saat tiba pada pemilihan ketua. Ya gue inget baju koko warna cokelat yang ia kenakan, dengan celana warna hitam dan tas selempang model Umar Bakri. Calm tak banyak bicara dan obral senyum! Senior setuju dan kami sepakat, akhirnya dinobatkan lah Yisif Utsmani jadi ketua kelompok gue. Walau dalam hati gue yakin manusia ini tak sebaik dari penampilannya, gue pun Curiga. Dia tersenyum dan irisnya bergerak ke atas seperti membayangkan sesuatu dan bergumam dalam hati khas di sinetron tersanjung session 7 “hahahaa ketipu luh semua, terimaksih kokoh coklat!” ya gue yakin itu yang dia omongin waktu itu. Kami terancam!

 

Benar saja di bawah kepemimpinan dia, kami jadi kelompok yang mungkin paling banyak di hukum di jalanan ketika ospek oleh senior. Yisif orang yang songong dan tidak mau diatur, pembangkang akut dan senang dengan kata ‘tidak’ pada senior. “tidak, kami tidak mau push Up!” akhirnya yah memang kami tidak push up, tapi sit up dan jalan bebek. “tidak, kami tidak mau joged!” yah kami betul tidak joget, tapi kami dipaksa mencium ketek senior selama sepuluh menit yang  sudah seperti bau neraka!

 

Lombok!

Sambil mencopot airphone nya yang gue ude bisa nebak dia sednag muterapa. Ya murottal, apalagi yang ada di playlist dia. “Boi, ayuk boi kita ke takol boi!” masih dengan senyuman konyol yang mencurigakan. “gak laper gue!” sambil menyingkirkan tangan kanannya yang besar dan agak kekar. “nemenin gua aja, pecel ayam boi”. Akhirnya sambil jalan gue melanjutkan makan es krim gue, Kami berangkat nyebrang jalan dan makan di pecel ayam. Dia mesen lengkap dengan tempe tahu. Double! Sesekali gue perhatikan kakinya yisif yang pake sendal eiger, begitu berdebu dan tampak lecet, keningnya agak aneh ditutup hendiplast.

 

“euuuuukkk” sendawa karena kenyang juga akhirnya dia. Sambil merogoh kantong celananya, gue uda siap pake tas eiger gue yang bolong pinggir ret sletingnya di bagian atas. Tiba-tiba yisif panik dan “boi, boi kehabisan duit gue boi. Bayarin gue dong” memelas dan narik narik ujung kaos oblong gue yang kerahnya uda belel dan robek robek di makan rendeman rinso. Gue diem sejenak. “entar gue ceritain kemana uang gue” yisif meyakinkan gue. Sial siang itu yah maksud hati makan eskrim agar masih ada margin jatah uang hari itu, malah yang ada gue rugi bandar. “lombok, sih kalo kaya gini gue ceritanya boi!”. “nombok boi, nombok pake N bukan lombok!” sambil nyengir menyebalkan ala hidung lebar!

 

Kami memang biasa saling traktir menraktir, kadang yisif beliin gue nasi goreng, gue nraktir teh tawarnya. Yisif nraktir bubur kacang ijo, gue yang nambahin roti tawarnya. Atau kadang yusef beliin kuku bima rasa anggur dan gue yang nyediain aer putihnya. Ya itulah kami. Hee kali ini gue kena batunya.

 

Galon si saksi bisu!

Kami memang sedang dirundung duka, kami semua ya kami anak LDK. Yah walaupun mungkin kami berdua sebenarnya tak layak dipanggil ADK. Yisif yang hampir berkeliaran di kampus dengan celana panjang-enggak pendek-enggak dan sandal eigernya. Sedang gue betah dengan jeans buluk dan kaos oblong yang kerahnya sudah rusak-rusak macam digigit anak tikus haus ASI. Tak-tak ada layak-layaknya, jika menyoal akhawat semacam tak tak akan pernah dilirik, yah mungkin saja bisa tapi sebelah mata. Seperti itulah nasip kami berdua. Pantas hanya pantas diberi lokasi dinas sebagai PU alias pembantu umum di setiap acara LDK.

 

Seperti yang terjadi pada tahun 2010. Ketika itu kami menghelat acar akbar nasional FSLDK (forum silaturrohim LDK). Semua tamu datang dari LDK penjuru Indonesia boi, hajat besar ini bagi LDK kampus kami. Sampai-sampai kami menyewa hotel untuk penginapan kontingen. Acara dipergelarkan hingga 3 hari lamanya, ikhwan ikhwan berjenggot, berkemeja rapi, berkacamata. Jika bilang semua mengguankan ana antum, haram sepertinya menggunakan kata gue, elu. Sehingga gue dan yisif harus puasa gue-elu selama 3 hari. banyak juga tamu tamu akhawat bagai bidadari seliweran di siang bolong. Tapi tak berani kami tak berani menatap-natap mereka. Alasan pertama : bisa habis kami jika ada laporan ke MR, alasan kedua tak ada ceritanya seorang budak berani menatap putri yang duduk di kursi singgasana. Cungkil mata hukumannya boi. Tak sanggup kami sungguh. Oke sudah dapat ditebak gue dan yisif berdinas di bagian logistik dan konsumsi juga pembuangan sampah acara alias tim sapu ranjau bersama kawan-kawan lainnya.

 

Tiba di penghujung penutupan yang diadakan acara makan bersama dengan menu sate Bandeng, hidangan sudah siap disantap. Semua kontingen sudah berkumpul rapi begitu juga kami yang kelelahan lengkap diiringi marawis suara perut yang kelaperan. Tiba-tiba senior LDK menghampiri kami dan meminta untuk membeli galon, karena stock air kurang untuk minum bada makan. Mau tidak mau kami berdiri dan hendak melaksanakn titah, sialnya di depan mata kepala kami sendiri mereka semua ternyata memulai makan terlebih dahulu.

 

Kesal dan sedih gue waktu itu! yisif berbisik “ayuk lah boi, gak usahlah bersedih macam begitu, semua ada waktunya, kapan tertawa dan kapan kita harus menangis”. Dengan enggan gue angkat galon dan meluncur, anehnya si yisif malah melipirr ke arah mesjid, kemudian berbelok ke tempat wudhu ikhwan. “ngapain luh boi kemari?”. “ude, elu jagain pintu WC situ jangan sampe ada orang masuk”. Gue masih bingung, kemudian yisif buka keran dan menaruh moncong galon tepat di bawah keran. Hahahaaaaaaaaaa, i got it!

 

Setelah acara makan kami siap siaga berdiri di pinggir galon dan memasang senyum lebar dan mempersilahkan setiap orang untuk mengambil minum. This is Revenge! Maka bagi semua yang merasa menjadi delegasi di Muktamar FSLDK 2010 dan sedikit mengalami gangguan pencernaan setelah pulang, mohon maaf lahir bathin. Hhhaaaa

 

Jalan Duka!

Ya, kami sedang berduka karena ada salah satu saudari kami yang orang tuanya sakit dan harus di rawat di RS. Dan perempuan tersebut bagi yisif bagai kuningnya sinar mentari yang bisa menerangi dan memberi hangat sudut hatinya. Kami semua sudah menjenguk pekan lalu, namun memang orang tua saudari kami tersebut harus lebih lama lagi menjalani perawatan intensif di sana. Hingga menyebabkan saudari kami tersebut belakangan ini sering tidak terlihat di kampus. Dan anehnya yisif baru kemarin pun tak masuk dan menitip absen ke gue.

 

Ternyata jalan duka ini yang membuat yisif harus menitip absen dan mebahayakan nyawa gue di hadapan dosen Powder Metallurgy. Yisif bercerita bahwa kemarin ia pergi ke RS yang jelas berbeda kota dengan kampus kami. Sekitar perjalanan 3 jam di tempuh dengan bis. Anehnya si bodoh ini, pergi kesana dengan sama sekali tidak menampakkan diri di hadapan si kuning sinar mentari.

 

Kacamata yang mebuat anda terlihat lebih smart di depan akhawat!

Sehari sebelumnya yisif berkutat dengan jarum dan benang kaput. Ia merombak ulang jas Lab kami untuk praktikum yang jelas di belakangnya tercetak besar nama fakultas kampus kami. Ia membalikkan tulisan tersebut agar bisa berada di balik ja. sehingga ketika dipakai jas praktikum malang itu sudah berubah menjadi jas dokter bedah jantung. Hhaahaa gila!

 

Kemudian ia mengontek kenalan kami, ssstttt orang dalam di Rumah Zakat Indonesia, orang yang bisa dipercaya dan cukup memiliki akses  untuk bisa membantunya menyelundupkan stetoscope agar bisa si sakit jiwa ini pinjam. Nanti gue ceritakan bagaimana bisa orang tersebut mau bersekongkol dengan orang macam yisif, nanti boi. Setelah berhasil menyelundupkan stetoscop dokter relawan lewat kardus kornet ditumpukan paling bawah persiapan yisif satu lagi adalah meminjam kacamata khas orang pintar. Tak perlu jauh kawan kami yang minta ampun TP (tebar pesonanya) bisa meminjamkan kacamata palsu enggak-minus enggak-plusnya miliknya itu dengan tujuan untuk mengelabui para junior akhawat agar menganggapnya sedikit smart, yah siapa lagi dia kalo bukan Diman. Diman Syuhada nama account facebooknya, syuhada itu nama tambahan gan biar keren. Yah Diman emang cool dalam soal menyoal pencitraan diri.  Selesai dengan kacamata, yisif pergi ke daerah kota pinggiran moll mayofield untuk mencari barber shop. Dia melipir dan mondar mandir di depan barber shop mengawasi keadaan dan akhirnya bisa memperoleh sejumput rambut bau yang harus ia cuci dengan rinso dan dirangkai menggunakan lem untuk dijadikan kumis palsu.

 

Lengkap, pagi buta kemarin ternyata dia sudah bertolak dari kota baja ke kota besar dimana RS itu berada. Sesampai di sana ia langsung memasuki WC menggunakan topi dan sedikit menunduk agar wajahnya terlindung dari CCTV. Dia belajar semua ini dari liputan 6 SCTV yang menampilkan rec CCTV Dr. Azhari sepertinya. Yayaa insane!

 

Tak ambil jeda lama dia berganti kostum di dalam WC dan keluar langsung menuju ke lantai 2 kamar no 139. Dengan sudah seperti bergaya dokter bedah kodok berkalung stetoscop ilegal. Ternyata pintu tertutup. Suasana sepi dan hening ketika itu jam 10 pagi.

 

Mengambil nafas, dan yisif mengetuk pintu “tok, tok ,tok” lalu membuka dan yah, kerudung lebar berwarna kuning cerah sedang duduk persisi di samping ayahnya yang sedang terbaring. “pagi dok, Asslamualaykum” sapa gadis tersebut benar-benar tak emnyadari bahwa yang ada di hadapannya itu si tengik yisif,  si dokter gadungan tersebut dengan suara diberat-beratkan membalas ucapan salam. Dan menghampiri tiang infusan dan memegang-megang kantung cairan pura-pura mengamati yang jelas padahal dia tak memahami apapun, sedikit pun. Dasar gila! Lalu yisif dengan suara yang berbeda mencoba memberi statement bagus tentang kondisi pasien kemudian pamit. Selesai yah selesai, hanya beberapa detik saja pertemuan yang dipisahkan jarak kota 3 jam itu.

 

Gue bertanya “untuk apa kau boi melakukan itu semua?” . “gue Cuma mau mastiin dia baik-baik saja di sana, tanpa dia harus tahu gue kesana dan gue orang yang selalu khawatirin kondisi dia ketika dalam situasi-situasi yang tidak menyenangkan”.

 

Terkadang kasih membuat orang bisa menjadi gila, melakukan hal-hal yang tidak masuk akal dan absurd, membuat waktu 9 detik serasa 9 jam bahkan bisa mengubah rasa garam menjadi manis! (penyakit gila No.39).

 

*cerita ini hanya fiktif, jika adanya kesamaan karakter dan latar cerita. Itu hanya ketidak sengajaan yang disadari dan disengaja oleh penulis

Catatan Relawan [the wiroggs]

(catetan relawan RZ cilegon)

Agus sangat bahagia, banyak orang yang berbahagia hari itu, tapi bagiku mungkin dialah satu-satunya orang yang lebih berhak untuk bahagia.

“Selamet bro,akhirnya lu jadi sarjana teknik..he” kuucapkan selamat kepadanya, sambilmenjabat tangannya. Dilanjutkan dengan jabatan tangan yang lain para penghuni basecamp relawan RZ sambil mengucap selamat dan do’a.

Tidak berlebihan jika kukatakan bahwa dialah yang lebih berhak untuk bahagia, karena baginya berkuliah, menjadi relawan, menjadi sarjana, adalah mimpi kosong bagi orang sepertinya. Siapa yang menyangka? Anak kecil, dekil,bau, dan ingusan ini akan berbahagia, bahkan anjing-anjing buduk di Kampung Onyam meragukan anak ini.

Berasal dari keluarga yang sangat miskin, kukatakan sangat miskin itu artinya benar-benar miskin, tinggal ditempat yang sebenarnya tidak bisa disebut rumah karena memang tidak layak jadi sebuah rumah. Dinding yang sebagian adalah kardus, sebagian papan tripleks bekas, dan apapun yang bisa dijadikan dinding, begitupun dengan atapnya terbuat dari apapun yang bisa melindungi “rumah” nya dari panas dan hujan.

Seorang ibu, bagi Agus adalah alien, makhluk asing dari salah satu planet dilangit sana, makhluk asing yang hampir tidak pernah ia rasakan kehadirannya. Sejak kecil, entah karena alasan apa dia di tinggal oleh ibunya,dan saban hari selalu dia tanyakan kepada ayahnya “Kapan ibu pulang yah?” danpak Rahmat selalu menjawab “Ibu pulang besok” terus begitu setiap kali agus bertanya. Besok demi besok agus menunggu ibunya, tak kunjung datang, rindu,diam-diam dia selalu menangis, mendekatkan kedua lututnya didadanya sambil tertunduk ia menangis, berhari-hari sepanjang minggu, hingga air mata tidak bisa mewakili perasaan sedihnya.

Ayah. Hanya seorang juru parkir disalah satu persimpangan jalan. Berhari-hari mengatur lalu lalang kendaraan, panas tidak kehujanan, dan hujan tidak kepanasan. Memiliki pendapatan standar juru parkir, sangat tidak cukup jika harus membiayai kehidupan sehari-hari dan sekolah kedua anaknya. Berangkat pagi dan pulang malam, dekil, berdebu, cuaca panas, tidak melunturkan semangatnya. Walaupun tua, lemas, tatapan matanya sayu akibat terlalu lelah, namun jiwa kuatdan tegar bersemayam didalam tubuhnya itu.

Makan. Agus kecil dan adiknya yang lebih kecil lagi, harus menunggu ayahnya pulang jika ingin makan, karena memang setelah bekerja seharian ayahnya baru mampu membelikan makanan. Pernah suatu hari Agus kecil dan adiknya menunggu ayahnya pulang, mereka ingin makan karena memang belum makan sepanjang hari. Menunggu berjam-jam, tidak juga datang, hingga hampir tengah malam ayahnya pulang dengan membawa beberapa bungkus mie instan , maka kelaparan hariitu baru terobati pada saat tengah malam. Mungkin karena kejadian makan tengah malam ini akhirnya Agus keesokan harinya mengunjungi salah satu toko kelontong dekat rumahnya, dan memohon pekerjaan dari tuan toko agar tidak perlu menunggutengah malam untuk makan.

Berjualan kue. Akhirnya tiap hari sebelum pergi ke sekolah Agus berjualan kue yang diambil dari toko kelontong. Dengan penghasilan tetap duaribu rupiah, dan selalu ia bagi dua untuk adiknya juga. Begitu ritual sebelum sekolah, setiap hari, sepanjang tahun, dari SD hingga masuk SMP terbuka.

SMP terbuka, biar kujelaskan padamu kawan apa yang dimaksud dengan SMP terbuka. Sama halnya dengan SMP lain yaitu sekolah menengah pertama, namunkata “terbuka” membuat SMP ini jadi berbeda, jam belajar yang tidak tahu kapan dimulai, ruang kelas yang tidak tahu juga apakah ada ruang kelas resminya, begitupun dengan ruang-ruang yang lain, ruang guru, kepala sekolah, tidak tahu apakah benar-benar ada atau tidak, namun yang paling pasti dari SMP terbuka ini adalah guru-gurunya, mereka nyata. Relawan pendidikan yang sebenarnya. Banyak siswa lulusan SMP terbuka ini yang tidak melanjutkan sekolah lagi, karena tuntutan pendidikan nasional dengan keadaaan sekolah yang bagaikan langit danneraka. Tapi sebuah keajaiban, dengan usaha dan bantuan berbagai pihak, Agus berhasil melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1 Curug Kab. Tangerang.

***

Entah apa yang ada dalam otak anak udik ini, mendengar ada kesempatan daftar kuliah lewat jalur PMDK diapun ikut mendaftar, karena memang nilai rapor selama SMA sangat stabil dan cenderung meningkat. Banyak kampus-kampus pilihan dengan jalur PMDK, ada IPB, UPI, UNPAD, dan kampus terkenal lainnya,namun pilihan paling rasional bagi Agus saat itu adalah UNTIRTA, kampus negeri yang murah satu-satunya di Banten. Walaupun murah, sebenarnya ayahnya juga tak sanggup membiayai, karena daftar PMDK cukup mudah, ya apa salahnya mencoba mengambil peluang.

Pengumunan PMDKpun tiba. Dengan uang pas-pasan pergi ke warnet (warung internet) melihat pengumuman secara online. Begitu membuka pengumuman PMDK, dengan spontan Agus berteriak “LULUUUUS!” tidakpeduli apakah orang-orang terganggu dengan teriakannya. Namun sesaat setelah bahagia dengan kelulusannya, Aguspun menangis, tertunduk berfikir dengan apadia membiayai pendaftarannya? Biaya orientasi, tes kesehatan, almamater, dan hal intelek lainnya yang harus dilunasi jika ingin lanjut berkuliah. Apakah sampai di sini dia berhenti, dihadapan tebing tinggi vertikal.

Seperti orang gila, kemana-mana mencari jalan agar bisa membiayai pendaftaran kuliah. Perih sekali kalau harus mengingat saat itu, akhirnya dengan sokongan teman, guru-guru SMP terbuka, guru-guru SMA Negeri 1 Curug,beberapa kerabat, akhirnya Agus memanjat tebing tinggi vertikal itu dengan perlengkapan seadanya tanpa pengaman sama sekali.

“Kamu kuliah jurusan apa gus?” Tanya Pak Rahmat kepada agus.

Industrial Engineering yah”

“apa? Coba ulangi”

Industrial Engineering

“Sunggung canggih betul nama jurusan itu, sungguh canggih!” ucap Pak Rahmat kagum sambil menggelengkan kepala.“Apakah jurusan itu mengajarkan bagaimana mengelola lahan parkir dengan baik?”

“Tentu saja yah, bahkan sistem parkiran, keamanan,sirkulasi kendaraan, kompposisi kendaraan di area parkirpun di atur dengan sangat hebat”

“sungguh canggih bukan main, sungguh canggih!” kembali Pak Rahmat dibuat kagum.

***

2009. Bergabung di basecamp RelawanRZ Cilegon. Aku sebagai salah satu penghuni pertama dan penggagas basecamp merekrut dia, karena memang ternyata dia juga sedang membutuhkan tempat tinggal di Cilegon. Menjadi anggota basecamp Relawan RZ Cilegon lebih sulit daripada DIKSAR Relawan RZ, tiap pagi harus mencuci piring milik semua penghuni, agak siang harus menyapu dan mengepel, dan harus siap jika para senior membutuhkannya untuk disuruh-suruh (hahaaa..). Namun semua itu dijalani dengan ikhlas, Agus mendapat tugas pertama kerelawanannya sebagai mentor anak juara, mengajar bimbel di basecamp, terus begitu hingga tahun 2011 dia menjadi seorang koordinator relawan Cilegon.

Sekarang. Dia masih seorang relawan aktif di Cilegon, bahkan se-Indonesia sudah mengenal relawan Cilegon dengan julukan “The Wirogs” akibat kegiatan Jambore Nasional yang kami adakan di Cilegon pada 2012.

“Sekarang kamu kerja sebagai apa gus?” Tanya Pak Rahmat kepada Agus.

Program Head Cita Sehat Foundation Cilegon yah”

“Apa? Coba ulangi”

Program Head Cita Sehat Foundation”

“Sungguh canggih nama pekerjaanmu itu, sungguh canggih!” ucap Pak Rahmat Kagum sambil menggelangkan kepalanya “Apakah jabatan itu yang mengelola lahan parkir super canggih?”

-END- ysf
poto wisudaan doi<br />( Gue - Rikar si blogger - Pa Azis sopir ambulance Cilegon - Agus - Dwi (adeknya agus yg lagi nunduk) - Faizi Relawan cabutan - Aenudin penghuni beskem - Aldi )

poto wisudaan doi ( Gue – Rikar si blogger – Pa Azis sopir ambulance Cilegon – Agus – Dwi (adeknya agus yg lagi nunduk) – Faizi Relawan cabutan – Aenudin penghuni beskem – Aldi )

aksi relawan wrgs

aksi relawan wrgs

crime at school (jilid III)

(ini fiksi belaka.. kalo ada yg mirip, berarti kita jodoh… lagi belajar bikin cerita detektif, sebagian masih meniru karya termahsyur Sir Arthur Conan Doyle,, mohon masukannya)

 

Banyak kebiasaan buruk yang belum bisa aku hilangkan, entahlah ada beberapa atau banyak orang yang terganggu dengan kebiasaanku yang ini. Seperti ketika aku mengerjakan sesuatu, atau menyelidiki beberapa hal, maka aku hampir tidak mau diganggu, bahkan kalau perlu aku akan membungkam semua orang bodoh yang banyak bicara disekelilingku.

 

Temanku di Kota Cilegon, dia selalu mengunjungiku di akhir pekan,mungkin dia atau hanya dia yang mampu bertahan dengan begitu banyak kebiasaan buruk-ku. Mei 2013, aku tertidur ketika Aldi masuk kekamarku.

“Astagfirulloh, Yosef!,lu harus bangun, apa-apaan kamar lu ini?!’ Aldi berdiri membuka pintu ‘Kamar lu lebih buruk dari pada kapal pecah, semua barang-barang ini sangat kacau dan berantakan, apa yang lagi lu kerjain boi?”

 

Aku terbangun, “Sekarang jam berapa?”

“jam 8.00 siang sef,  kayanya 3 kg ya?”

“Tepatnya 2,7 kg, berat badan gue turun”

“Gue udah sering kekamar lu sef, awal gue kenal lu mungkin seorang perempuan terhormatpun bakal terpukau dengan kamar lu yang rapih dan bersih. Tapi sekarang, lihat, kamar lu lebih cocok kaya kapal bajak laut yang karam di dasar laut!”

“berarti lu belum mengenal sifat gue yang lain…”

“ayolah sef, kembali jadi diri lu yang….”

“justru ini gue yang sebenarnya”

 

“coba liat, emangnya kaleng mentega tempat yang cocok untuk menaruh dokumen penting penghargaan dari salah seorang klien, atau sepatu pemberian komunitas pendaki adalah tempat yang baik untuk menaruh kopi lampung yang biasa lu minum? Belum lagi, lihat kenapa anak panah dart tertancap di plafon kamar lu? Dan astagfirulloh, lu merokok sef?! Bukannya lu udah berhenti merokok? Lu benar-benar udah berantakan!”

 

“semua itu gak penting, Aldi, tapi untuk bungkusan dan abu rokok di meja itu justru sangat membantu gue di, kasus terakhir yang terjadi bisa terpecahkan karena rokok dan abunya. Lu harus tau, bahwa tiap merk rokok punya karakter abu yang berbeda, gue nemuin abu rokok di beberapa lokasi kejadian pencurian dan setelah penelitian gue yang mengikuti metode salah satu detektif terkenal, membeli semua merk rokok dan membakarnya satu persatu, akhirnya gue bisa mengidentifikasi abu rokok yang gue temuin dan cocok dengan rokok yang selalu di hisap oleh salah satu tersangka pencurian lalu dengan beberapa bukti maka pelaku pencurian itupun ditahan oleh pihak berwajib.Tapi yang mengejutkan, Aldi, ternyata abu rokok beberapa merk  memiliki kesamaan yang sangat sulit gue bedain, itu karena merk itu berada dalam satu perusahaan yang dipimpin oleh satu orang, konspirasi. Maka mereka yang suka merokok terutama dengan merk itu adalah orang-orang tolol yang sudah menjual dirinya untuk diperbudak.”

 

“Sef..sef.. ceramah yang hebat, lalu ini apa?” Aldi memegang kotak bingkisan.

“itu jam tangan digital, Casio, pemberian dari keluarga korban pencurian, jam yang canggih, lengkap dengan indikator altimeter, termometer, barometer,dan ada kompas di bagian tali jamnya. Mereka tau kalau gue suka naek gunung.”

 

Aku mencuci muka dan membuat dua cangkir kopi, mempersilakan Aldi untukmenikmati kopi dan roti bakar buatanku. “lu lagi sibuk apa akhir-akhir ini di?” aku membuka obrolan kembali.

 

“yah.. sekarang gue lagi bikin beberapa lukisan dan poster yang bakal gue pajang dipameran kesenian kampus, beberapa hasil coretan tangan dan yang lainnya dibuat secara digital.”

“Senin sampai Rabu pekan depan, bisa lu temenin gue? Satu kasus di Tangerang menunggu untuk diberesin, gimana?’ Aku mengeluarkan beberapa dokumen danfoto-foto terkait kasus itu. ‘coba lu baca dan periksa dokumen ini di”

 

Sambil melihat dokumen, Aldi membacakan kembali detail kasus itu, “Kasus anak hilang, anak yang malang, Sofi 17 tahun meninggalkan rumah tanpa izin dan pemberitahuan kepada orang tuanya, setelah diselidiki ternyata Sofi berada disalah satu sekolah tinggi di Jawa Timur. Yang membuat sekolah itu mencurigakan adalah pihak sekolah tidak mengizinkan Sofi dikunjungi oleh orang tuanya, namun orang tuanya berhasil membujuk pihak sekolah dan Sofi bisa dikunjungi dengan pengawasan dari pihak sekolah.’ Aldi melihat ke arahku ‘sekolah apaan nih sef? Gak beres”

 

“Sekolah tinggi berkedok pengajaran agama, di Indonesia banyak banget aliran sesat berkedok ajaran Islam, gue khawatir sekolah itu salah satunya. Dan parahnya Sofi menolak untuk di ajak pulang oleh orang tuanya bahkan menyalahkan mereka karena tidak memahami keinginannya. Dugaan sementara gue, Sofi mengalami pencucian otak, atau terlalu banyak doktrin negatif sehingga secara sadar melawan orang tua dan justru merasa bangga dengan keputusannya meninggalkan orang tuanya.”

 

“wah, ini bakal sulit sef, gue gak yakin Sofi mau lu ajak pulang, atau lu mau paksa dia pulang? Justru itu cara paling bodoh.”

 

“dia bakal pulang dengan sukarela, atau bakal gue buat dia pulang dengan keinginannya sendiri”

Dengan nada yang mengejek, Aldi berkata “kalau gitu,  gue mau melihat kegagalan elu, hahaa” Aldi tertawa tidak yakin dengan apa yang kukatakan.

 

***

 

Tangerang. Cuaca yang cerah untuk piknik atau sekedar jalan-jalan menghilangkan penat, tapi tidak untuk saat ini, aku dan Aldi sedang menuju rumah Pak Rizal orang tua Sofi. Kami naik angkot R.07 jurusan Pasar Malabar-Binong, aku lebih memilih naik angkot karena itu cukup murah dan agar penyelidikanku tidak terdeteksi oleh siapapun.

 

“Jadi, apa rencana lu sef?” Aldi membuka obrolan.

“rencana apa?”

“Bagaimana lu membuat Sofi pulang dengan sukarela? Padahal kondisinya justru Sofi yang meninggalkan rumah dengan sendirinya, jadi gak bisa dibilang penculikan.”

“Sebenernya gue gak mau ngobrolin itu sekarang, lu tau beberapa bulan lagi Metallica mengadakan konser di Indonesia, klo lu gak terlalu sibuk, kita nonton bareng, gimana? Pasti lebih seru dari pada konser Gun’s n Roses kemarin.”

 

“sef, bukannya lu harus mikirin gimana caranya bisa menyelamatkan Sofi?”

“yah sebenernya gue udah ngerancang sekitar sembilan rencana, tapi gak berguna juga kita ngobrolin itu sekarang, masih banyak data yang harus kita dengar dari Pak Rizal. Menyusun rencana dengan data yang belum lengkap, sama aja merencanakan kegagalan, karena dengan data yang lengkap gue bisa milih mana rencana yang tepat.”

 

“hmm,, kalau gitu sebaiknya lu pesen dua tiket untuk konser Metallica, dan siap-siap turun karena sebentar lagi kita sampai diperumahan Binong,”

 

 

(BERSAMBUNG…. sampe penulis mood lg untuk nulis hahaa)

crime at school (jilid II)

Aku sangat bersyukur, kehidupanku selama sekolah di SMAN 5 Tangerang tidak terlalu membosankan. Ada saja hal-hal konyol dan sedikit beresiko yang aku dan teman-temanku lakukan. Setelah kejadian hilangnya bendera, omJuned sekuriti sekolahku sering berjaga-jaga didepan ruang Wakasek, dan rekannya om Juned, Mang Fadhil tetap berjaga dipos depan gerbang sekolah.Tingkat keamanan sekolahku cukup canggih, hampir tak ada orang yang mampu menembus keamanan sekolahku, siswa-siswa nakal yang mencoba kabur dari sekolah saat jam belajar tak mungkin lolos dari mata sekuriti sekolah. Waspadalah!

Teman-temanku disekolah cukup unik dan beragam, ingin melihat siswa yang cerdas dan rajin beribadah, tentu saja Salpian sang ketua Rohis adalah figur yang pantas untuk kata cerdas dan rajin ibadah. Sebaliknya siswa paling mengenaskan keadaan akademiknya dan tidak terlalu rajin beribadahpun banyak dijumpai, nyampah! Hafid, dia siswa yang terkenal dengan reputasi tersebut, bahkan sebagian guru sudah menandainya sebagai siswa paling bengal disekolah ini. Dan sungguh sial, aku satu kelasdengan Hafid, aku merasa akan ada kolaborasi antara aku dan Hafid dalam kriminalitas disekolah.

Tiap pagi, sambil berjalan dikoridor sekolah, aku selalu dengan rutin membaca berita-berita yang ada dimading sekolah. Adaberita yang cukup membuatku geli ketika membaca Headline-nya tertulis begini :

“HEBOH! Misteri Hilangnya Bendera Merah Putih.

Dibatalkannya Upacara Bendera”

Sedikit kubaca berita tersebut dikatakan bahwa pelakunya mungkin siswa paling bengal disekolah, yaitu Hafid,dalam hati aku berkata ‘sungguh malang Hafid dituduh dengan kejam, dia memang bengal tapi tak cukup cerdas untuk melakukan hal itu’ aku lalu beralih ke berita yang lain, ada artikel cukup menarik yang ditulis oleh Salpian sang ketua Rohis, ada kalimat menarik dari artikel tersebut ‘Orang yang melanggar aturan itu sampah, tapi dia yang tidak peduli terhadap temannya itu lebih rendah dari sampah’ memang hebat sang ketua Rohis. Akupun hendak bergegas menuju kelas,namun ada berita menarik yang menghentikan langkahku dan kubaca dengan seksama.

“Tangerang. Pasar Kemis. Akibat curah hujan yang tinggi selama dua pekan terakhir berakibat pada meluapnya sungai Cisadane sehingga 257 kepala keluarga didaerah Pasar Kemis harus mengungsi dari rumahnya. Bantuan masih sangat minim karena akses menuju lokasibencana masih sulit ditembus….”

Aku membayangkan kalau hal itu terjadi padaku, kuharap ketua OSIS mengadakan penggalangan bantuan untuk bencana banjir.

Akupun akhirnya berada dikelasku,seperti kelas-kelas yang lain jika guru belum hadir maka aktivitas kami para siswa adalah ngobrol dan becanda. Tapi pagi itu kami sekelas dikejutkan oleh Nadia yang tiba-tiba menangis setelah menerima telepon.
”Nadia kenapa?” Tanya salah satu temanku.

Nadia hanya menangis, Mega berusaha menenangkannya dengan memeluk dan memberikan tissue kepada Nadia.

“Nadia jangan nangis, cerita aja” bujuk Mega.

Akhirnya Nadiapun bercerita dengan terisak, “Tadi gw ditelepon sama Lia temen sebangku gw yang hari ini diagak masuk sekolah hiks.. hiks.. dia bilang gak bisa sekolah lagi, rumahnya di Pasar Kemis kebanjiran, tenggelam.”

“Terus sekarang Lia dimana Nad?” Tanya Mega

“Dia sekarang lagi diposko relawan,hiks.. gw takut, tadi dia bilang semalem pas banjir dateng dia hampir hanyut dan sekarang dia terpisah dari keluarganya…hiks”

Kami sekelas terdiam, tak ada yang mampu berkata, namun akhirnya kesunyian di pecahkan oleh suara Hafid yang berkata “Oke sudah diputuskan” katanya “Gw mau ke tempat Lia sekarang, ada yang mau ikut?”

Dengan ringan dan spontan teman-temanku menyambut ajakan tersebut.

“Gw ikut”

“Gw juga fid”

“Wah kalau udah banyak yang mau ikut mending kita semua sekelas kesana aja” Hafid menambahkan, “Gimana?”

“Eh tunggu” sela Mega “Lu semua gampang banget bilang ikut, tapi gimana kita kesana, sekarang masih jam belajar, minta izin keluarpun pasti bakal dilarang kalau yang ikut sekelas”

“Hehe..tenang aja” sambil tertawa hafid melihat ke arahku “Gw tau orang yang bisa mengeluarkan kita semua dari sekolah ini sekarang juga, ya kan sef?”

Aku hanya diam sambil memutarkan pulpen ditangan kananku.

“Gw tau sef” kata Hafid “Yangbikin upacara kemaren batal itu elu kan? Sekarang gw pinta lu untuk keluarin kita semua dari sekolah untuk bantu Lia yang lagi kena musibah”

Ini bukan permintaan yang gampang, aku sangat menyadari hal itu, aku terdiam sejenak berfikir bagaimana mengeluarkan 28 temanku dari sekolah tanpa menimbulkan masalah? Setelah lima menit terdiam akhirnya aku berkata pada semua teman sekelasku, “Oke” kataku “Lu semua bersiap aja, beres-beres tas lu dan siap untuk berangkat, 15 menit darisekarang tunggu sinyal dari gw, dan untuk lu fid” aku berkata pada Hafid “Kalau lu denger sinyal dari gw yang memicu teriakan kebakaran, langsung aja lu giring anak-anak keluar sekolah, gw jamin nanti gerbang sekolah aman tanpa penjagaan Mang Fadhil dan Om Juned”

Aku langsung menuju kelas 2IPS3,dsana terdapat Bima dan Teguh yang tak lain adalah temanku dalam berbuat hal-hal yang gila. Aku menyebut mereka dengan sebutan Partner in crime, ya, mereka orang yang rela membantuku walaupun resikonya cukup berat. Kujelaskan rencanaku pada Bima dan Teguh lalu kupinta mereka untuk stand by didepan ruang perpustakaan menunggu sinyal dariku.

Sementara Bima dan Teguh menunggu didepan perpustakaan, aku menuju rumah Mang Saroni didekat WC belakang sekolah,Mang Saroni adalah petugas kebersihan sekolah dan juga orang yang selalu dipinta untuk membetulkan pipa atau keran yang bocor. Aku menemui Mang Saroni untuk meminjam bom asap yang biasa dia gunakan untuk membetulkan pipa yang bocor, bom asap dapat mengeluarkan banyak asap dan berguna untuk mendeteksi dimana terjadi kebocoran pada pipa. Sebenarnya satu batang bom asap saja sudah cukup, tapi aku meminta tiga batang bom asap agar suasana lebih mencekam.

Ini dia bagian paling seru, akusiap dengan bom asap, kunyalakan bom asap lalu kulempar kedalam perpustakaan. Dalam sekejap perpustakaan dipenuhi oleh asap yang tebal bergelung-gelung. Lalu ada yang berteriak “Kebakaraaan!” yang tak lain itu suara Bima, dsambut lagi dengan teriakan yang lain “Ada kebakaraaaaan!” yang ini suara Teguh, mereka berlari ke segala arah sambil berteriak histeris. Dramatis.

Mendengar teriakan kebakaran,semua siswa yang sedang belajar dikelas berhamburan keluar kelas, guru-guru menghentikan pelajaran, Om Juned yang sedang berjaga didepan ruang Wakasek berlari menuju perpustakaan, guru-guru pun mengerumuni perpustakaan, dan taklama datang Mang Fadhil dengan terengah karena berlari menuju perputakaan. Ini berarti gerbang sekolah sudah aman dari penjagaan sekuriti. Melihat sinyal kebakaran, Hafid menggiring teman-teman sekelasku untuk segera menuju gerbang dan keluar dari sekolah. Akupun segera menyusul mereka.

“Hahaa… bener-bener menegangkan boi” kataku.

“Gw gak nyangka 28 siswa bisa keluar dari sekolah pas jam belajar secara bersamaan” Hafid menambahkan“hehehe”

“Ayo sekarang kita ke tempat Lia,mudah-mudahan kita bisa bantu banyak” Aku mengingatkan.

Kamipun segera menuju lokasi posko relawan tempat untuk menemui Lia dan meringankan bebannya. Aku tidak bisa membayangkan apa resiko yang akan kami terima nantinya, nanti saja aku pikirkan, sekarang lebih baik segera membantu teman kami.

Aku tak menyesal melakukan semua ini, karena jika kami tidak melakukan hal ini, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada Lia dan keluarganya. Seharian dari pagi sampai malam, kami berpencar mencari keluarga Lia yang terpisah akibat bencana banjir. Ternyata Lia adalah korban selamat setelah hanyut dalam banjir sedangkan keluarganya sudah diselamatkan dengan perahu karet oleh tim SAR, dan kami berhasil mengumpulkan mereka kembali pada jam 20.00 diposko relawan dari tim SARdiwilayah Jatake, Tangerang.

***

Mugkin kau belum terlalu mengenalku kawan, nama lengkapku Yusef Cahyadi, teman-teman biasa memangilkudengan Yusef saja. Hobiku menggambar dan jalan kaki, mengambar bisa melatih daya imajinasiku sedangkan jalan kaki memang karena terkadang aku tak ada ongkos berangkat dari rumah ke sekolahku, sehingga biar lebih keren kujadikan hobi saja (hahaa..). Walaupun aku sering berbuat onar disekolah namun aku selalu memilih kelakuan nakal yang bukan sekedar nakal murahan, seperti mencontek, menggoda siswi cantik, atau mengganggu siswa yang lemah, sungguh rendah, itu kenakalan murahan.

Sekarang aku sedang menjalani hukuman, yaitu menyapu dan mengepel semua koridor sekolah tiap pagi selama sebulan. Walaupun aku lolos pada insiden bendera merah putih, tapi kejadian kebakaran bohongan itu terlalu heboh dan pihak sekolah mampu mengungkap bahwa aku otak dari kejadian itu. Aku lalu berfikir, mungkin cukup sampai dsini kelakuan nakalku, aku diajak masuk Rohis oleh Salpian, agar aku menjadi anak baik dan rajin beribadah seperti dia. Kuterima saja tawarannya, tapi jika dilain waktu ada siswa dengan masalah yang serius memerlukan bantuanku dan harus melanggar aturan, aku siap beraksi lagi bersama Partner in crime-ku.

crime at school

Meminum kopi. Sebenarnya bukan menjadi kebiasaanku, namun jika aku sedang tidak banyak aktivitas dan kegiatan tidak terlalu menarik maka kopi bisa membantu merangsang dan menjernihkan fikiran, walaupun buruk jika terlalu banyak namun efek sekundernya bisa diabaikan. Maka dalam hal ini kopi adalah penasihat pribadiku.

 

Aku termasuk orang yang sangat cepat bosan dengan rutinitas. Maka aku membagi aktivitasku berdasarkan seberapa besar resiko yang diterima. 65/20/15 maksudnya adalah 65% untuk aktivitas yang biasa saja tanpa resiko yang berarti, lalu 20% untuk hal yang unik yang beresiko ringan dan 15% untuk hal-hal luar biasa dengan resiko yang mematikan. Namun faktanya adalah tak banyak hal-hal menarik yang terjadi dikehidupan kita, dunia terlalu biasa dan orang-orang hanya bermain aman.

 

Tapi seingatku ada hal menarik yang cukup beresiko pernah  kulakukan ketika aku masih sekolah SMA. Mungkin sebelumnya biar aku jelaskan tentang aktivitas sekolahku dahulu, SMAN 5 Tangerang, seperti sekolah lainya tiap senin pagi selalu diadakan upacara bendera dengan segala peraturan yang cukup ketat, seperti berpakaian rapih dan lengkap dengan topi. Banyak siswa yang saat upacara lupa membawa topi, maka selama upacara dia akan dipermalukan dengan baris ber-shaf di depan lapangan. Sungguh memalukan.

 

Selain rutinitas belajar, siswapun bisa beraktivitas dengan memilih kegiatan ekstra kulikuler(ekskul) yang disediakan sekolah, seperti OSIS, Pramuka, Paskibra, Rohis, Teater, dan banyak yang lainya. Seperti temanku Ari, dia mengikuti ekskul teater, berperan menjadi apapun adalah keahliannya, menjadi guru, menjadi pengemis, preman, dan orang yang berpenyakit ayan pun dia bisa. Sungguh hebat.

 

 

Hari itu hari senin, aku selalu datang lebih awal karena upacara bendera dimulai pukul 7.15 dan aku sudah di sekolah pukul 6.20. Seperti aku, temanku Ari juga sudah datang dan kami biasa nongkrong dikoridor depan kelas Namun aku tak mengira kalau ketua OSIS mengajak aku untuk ngobrol diruang OSIS, maka ku ajak Ari uintuk menemaniku.

 

“Gawat boi!” kata Ahmad sang ketua OSIS.

“kenapa?” tanyaku.

“ini bakal memalukan.. ah.. sial!” dia melanjutkan, “sef, gw tau lu kamren pernah bantu anak rohis pas kotak amal hilang, dan berhasil lu temuin dengan mudah terus hari rabu kemaren juga pas konci motor si Iqbal ilang lu juga yang nemuin di kantin”
”lu berlebihan boi, iqbal emang pelupa kalo udah makan dikantin” kataku, “jadi masalah lu apa?”

“gw harap lu bisa bantu, sekarang jam 6.43 upacara jam 7.15 dan sekarang gw gk punya topi, hilang, apa kata dunia? Gw ketua OSIS, dihukum didepan lapangan karena gk pake topi, memalukan, reputasi gw jatoh!”

“kita pinjam saja ke siswa yang lain”

“gak bakal ada yang mw minjemin, karena dia bakal dihukum juga”

“beli aja”

“gw udah ke koperasi sekolah, tapi stok topi udah habis”

Aku terdiam dan berfikir sejenak.

“yang penting adalah, gimana gw terhindar dari hukuman yang memalukan ini” lanjutnya, “apapun caranya”

“oke” kataku, “gw punya rencana, ri kemungkinan nanti gw butuh bantuan lu dalam ber-akting” kukatakan kepada Ari “ yang pasti sekarang kita ke kelas 3IPS1, waktu kita gak banyak bentar lagi upacara”

 

Kami bertiga bergegas menuju ruang kelas 3IPS1. Rencana ku yang pertama adalah menyembunyikan ketua Osis, sehingga tidak terkena razia topi ketika upacara berlangsung. Salpian sang ketua Rohis itu berada di 3IPS1, tempat paling aman menyembunyikan ketua Osis adalah di sekretariat mushola Al-Falah. Aku akan meminjam kunci sekre mushola padanya.

 

Sesampainya di 3IPS1 kujelaskan semuanya dan aku ingin meminjam kunci sekre mushola.

“waah… gak bisa boi, afwan”  jawab Salpian, dia menggunakan sedikit bahasa arab, afwan yang artinya maaf.

“kenapa gak bisa boi? Pinjem sebentar dan lu gak terlibat”kataku.

“ane gak bisa bantu sef, afwan ni, kata pa ustadz klo kita bantu orang berbuat jahat maka kita juga bakal dapet dosanya juga”

 

Pagi itu aku mendapat ceramah selama 5menit, sekarang pukul 6.58 kurang lebih masih ada 15menit sebelum upacara dimulai. Aku fokus pada rencanaku selanjutnya. Dan kukatakan pada Ahmad “sebaiknya lu baris aja sesuai dengan tempat kelas lu baris mad”

“terus topinya gimana? Kalo gw kena razia gimana?”Tanya Ahmad

“tenang, udah lu baris aja, percaya sama gw, gw jamin gak bakal ada razia atau mungkin gak ada upacara bendera, hahaa” kataku dengan tenang

“tapi..”

“udah, percaya aja, kita gak banyak waktu”

“oke gw percaya sama lu sef, gw skarang baris di tempat gw”

 

7.15. Akhirnya upacarapun dimulai. Namun yang terjadi pagi itu adalah Pembina upacara yang tiba-tiba naik podium dan langsung berpidato.

“Saya sangat menyayangkan kejadian ini, dalam sejarah upacara di sekolah ini baru kali ini hal ini terjadi, saya himbau kepada semua pengurus dan pelaksana upacara bahwa saya tidak mau hal ini terulang kembali dikemudian hari” beliau diam sejenak menatap para siswa dan melanjutkan “upacara hari ini ditiadakan, terimakasih”

 

Seluruh siswa bersorak dan mereka digiring masuk kelas masing-masing.

 

9.30. Waktu istirahat, Aku bertemu kembali dengan Ahmad dikantin sekolah.

“luar biasa, bagaimana lu melakukannya boi?” Tanya Ahmad padaku

“haha.. yang penting lu gak dihukum dan dipermalukan kan? Karena upacara dibatalkan” kataku “yang pasti hal ini takan terjadi tanpa bantuan ari, ya kan ri?

Ari hanya terwata konyol.

“jadi gimana? Tolong jelasin ke gw kenapa upacara bisa dibatalkan?” Ahmad penasaran.

 

“oke biar gw jelasin, sebenernya cukup sederhana namun penuh resiko boi” kataku. “setelah lu baris ditempat lu, gw sama ari langsung bergegas menuju ruang wakil kepala sekolah, 15 menit bukan waktu yang banyak. Gw meminta bantuan Ari yang sangat pandai ber-akting untuk berpura-pura sakit ayan dan kejang didepan ruang wakasek. Melihat Ari yang tiba-tiba kejang dan ayan di depan ruang wakasek semua orang disekitar ruagan langsung mengerumuni Ari termasuk wakasek, saat mereka teralihkan itulah gw dengan cepat masuk ke ruangan dan buru-buru mengambil bendera merah putih karena kita tau bahwa bendera dengan aman disimpan di lemari wakasek. Setelah bendera gw ambil, Ari pun mengakhiri aktingnya dan bergegas meninggalkan ruangan wakasek sebelum mereka menyadari kalau bendera telah dicuri”

 

“waah.. gimana lu bisa berfikir begitu sef?” Tanya Ahmad

 

“hahaa.. gw fokus bagaimana lu terhindar dari hukuman, pertama udah berusaha menyembunyikan lu di sekre mushola tapi gagal, maka gw berfikir gimana klo upacara gak ada, maka gak ada juga hukuman, tapi bagaimana? Upacara gak bakal berjalan tanpa bendera merah putih, makanya gw mengambil bendera”

 

“sekarang bendera dimana?”

 

“di tas gw, lu yang balikin yah ntar..haha.. sementara ini mungkin Wakasek lagi marah-marah karena bendera hilang dan upacara dibatalkan”

a dynamic of feeling

KARDUS HANDBOOK

Pengantar Penulis

Menilai seseorang menjadi sebuah spontanitasku dalam berinteraksi dengan seseorang terutama orang yang barukulihat. Contoh kecil aku menilai seorang pria yang sangat rajin beribadah daridahinya, bekas sujudnya dan bagian mata yang terdapat kantung mata berwarnagelap. Pria dengan ciri ini dia cukup sering beribadah dan tentu saja kantung mata yang berwarna gelap menunjukan bahwa dia sedikit tidur dan sering bangun diawal waktu.

Berbeda dengan wanita, aku menilai dari cara berpakaian, selera warna dan bagaimana dia berinteraksi dengan lawan jenis yang tentu saja bukan bagian keluarganya. Melihat dan mengamati pergelangan tangan dan kaki wanita, cukup untuk bisa mendapatkan informasi mengenai aktivitasnya dan seberapa berkelas wanita tersebut. Mungkin agak berlebihan dan lancang, tapi deduksi ini berguna untuk menentukan bagaimana kita harus bersikap terhadap seseorang.

Dinamika perasaan dan deduksi sangat berlawanan. Perasaan akan sangat mempengaruhi penilaian, maka dalam melakukan deduksi sebaiknya singkirkan semua perasaan yang ada, benci, cinta, sehingga mendapatkan penilaian yang benar benar akurat. Dalam menanggapi dinamika perasaan serta sikap dan akibat yang terjadi dalam interaksi sehari-hari, makakita harus dapat mengenal dan menentukan karakteristik seseorang.

Pria. Dalam interaksi sosial, aku membagi menjadi beberapa karakter. Pertama seorang pria yang sangat ramah,perhatian, dan suka menolong, sikap ini dia terapkan kepada semua orang. Kedua,pria dengan karakter sebaliknya, acuh, tidak peduli terhadap apapun. Ketiga,pria yang ramah, perhatian, dan suka menolong namun hanya pada orang tertentu saja, kepada keluarga atau kepada lawan jenis yang dicintainya.

Menanggapi sikap pria. Wanita,aku juga membagi menjadi beberapa karakter. Pertama, dia yang sangat tidak peduli atau biasa saja dengan sikap perhatian seseorang. Kedua, sebaliknya dia yang sangat peka dan mudah tersanjung akibat dari sikap baik orang lain atau sangat tersinggung akibat dari sikap buruk orang lain. Ketiga yaitu wanita yang memanfaatkan karakter pria yang ketiga.

Kesalahan-kesalahan. Pria sangat salah ketika terlalu berlebihandan selektif bersikap baik terhadap orang lain atau lawan jenis dalam kasus ini. Dia berbuat baik hanya pada orang atau wanita tertentu. Maka pria yang tidak bersungguh-sungguh dalam hal ini mungkin termasuk dalam istilah PHP(Pemberi Harapan Palsu). Dan wanita juga akan salah ketika menanggapi dengan berlebihan sikap baik pria padahal mungkin pria tersebut berbuat baik terhadap semua orang, terlalu cepat menyimpulkan dengan perasaan tanpa melihat fakta.

Korban dalam kasus ini tentu saja wanita, wanita yang cepat tersanjung dengan sikap baik pria akan tersakiti ketika menemui fakta bahwa pria tersebut biasa saja atau tidak memiliki perasaan apapun terhadap wanita tersebut. Maka aku menyarankan untuk melakukan deduksi seperti paragraph pertama dan kedua agar bisa menilai karakter seseorang. Jika mungkin wanita kesulitan dalam melakukan deduksi maka akan sedikit kupermudah dengan langkah-langkah yang tepat untuk menilai seorangpria.

Untuk wanita, menilai pria jangan pernah melihat dari penampilannya karena itu sangat menipu. Menilai karakter pria dapat dilakukan dengan mengamati sikap mereka terhadap tiga orang. Pertama sikap mereka terhadap orang yang lebih tua, dengan melihat sikap pria terhadap kaka kelas, dosen, guru, pengemis yang tua, maka itu cukup bisa menjadi referensi bagaimana dia akan bersikap kepada orang tua anda. Kedua yaitu sikapmereka(pria) terhadap anak kecil, pria baik akan sangat di senangi oleh anak kecil. Lalu ketiga adalah sikap mereka kepada lawan jenis selain anda, pria terhormat dan berkelas adalah yang menjaga kata-katanya terhadap semua wanita.

Sebenarnya banyak kasus yang lain, namun kasus seperti ini yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Jalan. Berjalan kawan, hobi yang sangat populer sebelum ditemukannya kendaraan bermotor, namun sekarang sudah jarang dikerjakan oleh orang-orang. Bahkan ada yang malu berjalan karena teman-temannya memiliki kendaraan yang keren dan canggih, yah itulah alasan paling buruk untuk tidak berjalan. Jarak dari kost-an ku ke kampus kurang lebih 1Km, yah cukup berat  jika harus berjalan kaki untuk kuliah setiap hari, tapi tidak untuk aku dan beberapa temanku. Bagiku berjalan adalah seni. Seni berolahraga karena kesibukan kuliah mengganggu jadwal olahragamu, maka jalan kaki adalah seni berolahraga. Jika kau terlalu lalai untuk mengingat Sang Pencipta, maka berjalan adalah seni berzikir, dan berjalan bagiku adalah seni menikmati hidup yang rumit, dijalanan kau dapat menemukan solusi, dijalanan kau bisa bertemu penyelamat, dan dijalanan pula kau dapat meninggalkan urusan yang pelik atau kenangan yang buruk.

 

Hari itu aku memang sedang tidak ada kegiatan, dan ku putuskan untuk berkunjung ke-kost-an teman ku dikomplek perumahan Krakatau Steel. Kaos oranye bertuliskan Metallurgical Engineering,  celana panjang hitam, sendal jepit, dan jaket hijau tua, yah itulah gaya santai mahasiswa fakultas teknik semester dua yang mau jalan ke-kost-an temannya. Satu hal yang terlupa olehku, dompetku tertinggal dikamarku, maka berjalan pada hari itu adalah seni menikmati hidup yang melarat. Bercengkerama dengan temanku seharian, tak terasa senja menyapaku untuk segera mengingat Sang Pencipta dan tertuduk hina dan rendah dihadapan-Nya.  Suara jangkrik menandakan dunia malam sudah dimulai, dan aku memutuskan untuk kembali ke kost-an ku.

 

Ini mungkin bagian yang tidak bisa kuanggap sebagai kebetulan, atau ketidaksengajaan, tapi menurutku ini adalah takdir. Belum sempat aku mengucapkan salam kepada temanku, suara sepeda motor mendekat kearahku dan sosok laki-laki gelap berkata padaku ”lu mau kemana boi?, ikut gw yuk”  mulutku ingin berkata tidak, tapi dia sudah berkata lagi ”udah gak usah banyak mikir, ikut aja, oke? Cepet naek!” aku ragu, tapi aku naik sepeda motornya. Terus melaju keluar perumahan KS, lewati kampus teknik dan berbelok ke arah kawasan industri Krakatau Steel dan terus hingga jalan raya Anyer. Aku bertanya ”kita mau kemana boi?”  tapi dia hanya tertawa konyol dan berkata ”udah.. gak usah banyak tanya, ntar juga tau boi!”

 

Kira-kira satu jam setengah, aku dibuat sangat penasaran. Kemanakah aku akan dibawa? Penculikankah ini? Aku sudah siap dengan  segala kemungkinan buruk penculikan berencana. Jika ternyata temanku ingin menjualku untuk dimutasi dan diambil organ tubuhku, maka dia akan kuhadapi sebelum itu terjadi dan kulumpuhkan dia dengan jurus Bandrong yang telah diajarkan kepadaku oleh Budiman. Jurus ini sangat berbahaya, dan terbilang sangat sakti mandraguna karena jurus ini memerlukan tumbal besar untuk bisa dikuasai.  Sepuluh meter dari tempat yang kuanggap sebagai lokasi pemberhentian, terlihat kerumunan orang sudah bersiap, kuasumsikan ada sekitar dua puluh orang, banyak yang bertubuh besar memegang pisau dan kayu. Maka ku analisa, mereka adalah perompak yang profesional, pembunuh berdarah dingin, bengis, kejam, dan berbahaya. Dalam kondisi ini, maksudku kondisi yang lebih buruk dari perkiraanku, pembunuhan berencana, aku sudah siap dengan jurus sakti mandraguna. Pernafasan sudah kulakukan selama perjalanan dan sekarang siap melakukan penyerangan. Sekarang aku dan meraka hanya berjarak dua meter, maka aku sudah berada pada posisi tembak dan mereka akan menyesal telah mencoba menculik dan membunuhku, hahaaaa…. Akhirnya aku dan para perompak itu sudah saling pandang dan langsung dengan kecepatan jurus Bandrong aku berteriak ”Ciaaaaaaaatt!” dan perompak itupun berkata ”Assalamu’alaikum akhi..”

 

Dengan segera aku membatalkan jurus Bandrong, dan mengalihkan seranganku kearah pohon dan pohon itupun tumbang (hahaa.. bo’ong deng..). Aku terkejut ternyata orang-orang ini bukan perompak, mereka memegang pisau karena sedang memasak dan kayu yang dipegangnya pun itu untuk dibakar sebagai api unggun. Lalu aku bertanya pada temanku, siapa mereka? Dan temanku berkata ”meraka adalah Panitia DM1 KAMMI Cilegon, Selamat datang di Dauroh Marhalah ’Ula KAMMI Cilegon!”

 

Akhirnya, mau tidak mau aku mengikuti DM1 KAMMI. Selain tempatnya jauh dari kost-an, aku pun lupa membawa dompet maka kabur adalah keputusan paling bodoh, dan akupun terus mengikuti rangkaian kegiatan. Salah satu kesulitan menjadi orang Islam, maksudku orang Islam dengan kadar keimanan yang berantakan seperti aku ini adalah menghafal al-Qur’an dengan cepat. Aku bisa menghafal, namun jika disuruh dengan cepat maka ceritanya akan berbeda.  Push-up menjadi sarapanku karena aku lalai dalam menghafal Qur’an yang ditugaskan dalam DM1. Namun walaupun busuk begini, aku adalah anak KAMMI, aku adalah seorang muslim negarawan. Bagaimana menurutmu kawan?

 

menangkap matahari

menangkap matahari