Pulang

Pulang

Pulang

Semua orang ingin pulang

Pengembara dan petualang juga ingin pulang walau cuma sekali

Operator tungku peleburan, pedagang, pegawai, penulis, mahasiswa

Semua hati yang resah mencari jalan pulang

 

Berjalan berhari-hari ditengah teriknya matahari

Sulit menggambarkan perasaan itu

Menantang panas matahari hanya untuk membuktikan siapa yang kuat

Panasnya matahari atau tekadku untuk pulang

Derap langkah yang kian berat, keringat bercucuran, tenggorokan yang perih karena dehidrasi

Akhirnya aku sadar

Itulah jarak perjalananku pulang ke rumah

 

Ditengah perjalananku Aku menemukan diriku

Diantara pohon-pohon pinus lembah Mandalawangi

Tersembunyi dibebatuan Pasar Bubrah

Tergeletak pada ilalang Surya Kencana

Karena Aku mencari jalan yang benar

Tapi tidak ditempat biasa

 

#Perompak KAPAL
04052014-Kota Benteng

Advertisements

Petualangan Black Seals

ITINERARIUM

Panggilan untuk semua crew Black Seals, dan gak ada panggilan kedua.

Anggota crew Black Seals yg saling berdekatan bisa berangkat bareng, tapi bagi yg jauhmeeting point kita di terminal Kampung Rambutan

18 April 2014

09.00————meeting point @terminal Kampung Rambutan

09.00-14.00—–Berangkat naek bis ke Garut—Terminal Guntur

14.00-16.00—–terminal Guntur —.Cisurupan

16.00-17.00—– Cisurupan — Pos Awal Pendakian (registrasi oleh Kapten)

18.00————- Sholat Maghrib + Istirahat + Pack ulang (klo diperlukan)

19.00-21.00—– Posawal–>Gober Hut (camp di gober hut atau klo cepet kita camp di pondok salada)

21.00———— diriin tenda + makanmalam + minum kopi + ngobrol-ngobrol

19April  2014

03.30-04.00—–Qia Al-Lail (kalo pada kuat)

04.00-05.00—–Sholat subuh

05.00-07.30—–Masak-masak Sarapan

07.30-11.00—–Tracking Pondok Salada-Taman Edelweis-Tegal Alur-Death forest

Pondok Salada tempat camp assik, lanjut nanjak bebatuan terjal kemiringan 30-45 derajat dan sampei di padang edelweiss yang inshaAlloh lg mekar di bulanke-empat. Santai bentar nyeruput kopi hitam kafein tinggi dan buka bekal bajak laut di Tegal Alur. Lanjut dari tegal alur menuju hutan mati, hutan dengan pohon yang sama sekali gak ada daunnya, mati akibat dilewati aliran lahar dingin pada erupsi 2002 lalu, foto-foto bareng disana menikmati sejuk angin dan hangatnya matahari Garut. Udah puas foto-foto balik ke camp lagi.

11.00-12.30—–Istirahat Sholat + Makan siang Bajak Laut

12.30-13.30—–Packing + Beres-beres

14.00-16.00—– Turun Pondok Salada–>PosAwal

16.00-18.00—–PosAwal—>Cisurupan

18.00-20.00—–Cisurupan—>Terminal Guntur

20.00—- Terminal Guntur—Pulang

20 April 2014

07.00—- Udah di rumah bisa recovery fisik dan mental

PERKAP

  1. Sepatu dan kaus kaki
  2. Ransel / cariel beserta Coverbagnya.
  3. One day pack (ransel/tas kecil untuk mobilitas jarak pendek)
  4. Senter dan batere (cadangan)
  5. Ponco atau raincoat.
  6. Matras.
  7. Sleeping bag
  8. Jaket tebel.
  9. Topi rimba (buat gaya)

10.  Tempat minum.

11.  Obat-obatan pribadi (P3K set).

12.  Pisau saku. .

13.  Tissue gulung dan tissue basah (untuk membersihkan perangkat makan-minum bila tidak ada air, dan alat bersih diri habis buang air besar).

14.  Sandal jepit.

15.  Kaus tangan.

16.  Personal higiene : sikat gigi, odol, sabun mandi

Kelompok

  1. Tenda
  2. Korek api dalam danlilin.
  3. Kompor (paraffin/gas/spiritus)
  4. Bahanbakarnya (gas/paraffin/spiritus)
  5.  Nesting

PAKAIAN

  1. Celana panjang.
  2. Kaos/t-shirt.
  3. Jaket (tahan air).
  4. Sarung tangan
  5. Kaos kaki
  6. Pakaian ganti
  7. Slayer (waspada gas Sulfur)

FIRST AID KIT

  1. Betadine.
  2. Kapas.
  3. Kainkassa.
  4. Perban.
  5. Rivanol.
  6. Obatmaag.

SURVIVAL KIT

  1. Kompas
  2. Tali
  3. Pisau
  4. Alat komunikasi (HT, sekarang: HP ,pejer juga boleh klo masih ada).

Lain lain.

  1. KTP atau KartuPelajar
  2. Uang lebih buat jaga2
  3. Buku catatan perjalanan (jurnal, diary) danbolpen.
  4. Kamera dan batere cadangannya.

Biaya

* Terminal Kp. Rambutan – Terminal Guntur: Rp 42.000 (bus AC via Tol Cipularang)

* Terminal Guntur – Simpang Desa Cisurupan: Rp 25.000

* Simpang – Pos Informasi: Rp 20.000 (pick-up)

* Pendaftaran: Rp.3.000,- per orangnya

Logistik

Snack – MakananInstan – Roti – Air Mineral – Kopi Hitam – Cemilan Manis – dll

acceptability

Tegal Alur, 1 Januari 2014. Ini diskusi yang kulakukan dengan beberapa penghuni Tegal Alur, Papandayan. Dipojokan Tegal Alur aku duduk dan bertanya pada salah satu tangkai Edelweis, bagaimana seorang pria dikatakan ‘meyakinkan’?

Tangkai bunga itupun berkata “penampilan” dengan jeda beberapa detik diapun melanjutkan “Dasar bodoh! Tentu saja seorang pria akan terlihat meyakinkan dengan penampilannya, kau harus berpenampilan oke jika mau meyakinkan seseorang hahaaha..”

“Kalau begitu, justru penampilan itu menipu dong”

“Justru itu tujuannya kan? Hahaa..”

Aku termasuk yang tak begitu peduli dengan penampilan, sangat tidak suka penampilan formal apalagi berpenampilan untuk tujuan meyakinkan orang (hehe..) mungkin suatu saat aku harus melakukan hal itu, tapi tidak sekarang.

“Jangan kau dengarkan perkataan si Edelweis itu,” aku kaget, ternyata salah satu tanaman paku disana ikut menjawab pertanyaanku.

Jika kau ingin dikatakan meyakinkan, maka bersikaplah yang benar, tunjukan dengan sikap dan perkataan yang baik, itu lebih keren dari sekedar penampilan”

“sikap, ini mungkin lebih baik dari sekedar penampilan” aku menambahkan.

tentu saja, dasar tolol! Jika kau berhasil meyakinkan seseorang dengan penampilan dan ternyata dia dikecewakan dengan sikap yang tidak sesuai penampilan, maka siap-siap saja kau digampar, hahaaa”

Kupejamkan mata, sambil kupikirkan jawaban dari tangkai Edelweis dan tanaman paku, menikmati sejuknya Papandayan diwaktu dhuha. Tidak terlalu dingin, dan tidak juga panas. Perlahan kubuka kedua mataku, kulihat tangkai Edelweis dan tanaman paku, mereka sudah menjadi tangkai Edelweis dan tanaman paku kembali.

Menatap langit. Aku tak peduli dengan penampilan dan sikap apapun, takan kulakukan tipuan murahan itu untuk meyakinkan seseorang, jika memang harus, maka akan kubuktikan, karena puncak gunung yang tinggipun tak lebih tinggi dari kaki kita ketika kita sudah dipuncaknya. –wahai nona berdarah campuran- acceptability

Volunteer + Mountaineer = VolunTaineer

Ini sudah sampai pada tahap yang cukup serius, walaupun efek sekundernya bisa diabaikan, namun akan berdampak secara permanen pada tubuh.Mengikuti nasihat seorang sahabat, aku memilih berpuasa mengkonsumsi kafein.Berminggu-minggu tanpa kafein, membuatku sakit, mungkin ini yang dsebut dengan kecanduan, untungnya hanya kafein. Aku berfikir, mungkin sedikit kegiatan pengalihan dapat merehabilitasi diriku secara natural. Dan beruntungnya diriku, seorang sahabat relawan mengajak diriku untuk membantunya dalam kegiatan ’Sapu Bersih Gunung’ memperingati Hari Relawan Nasional di Cikuray-Garut.

Sebenanya tidak sesederhana itu, kegiatan ’Sapu Bersih Gunung’ ini sedikit-banyaknya aku menyumbangkan ide secara mendasar. Berawal dari kegemaran dan kecintaan terhadap alam, terutama gunung, dan seringnya naik turun gunung memunculkan sebuah pertanyaan ’untuk apa semua ini (naik gunung) dilakukan? Kemana hal-hal ini bermuara?” jika memang atas dasar mencintai alam, maka konsep cinta alam yang sebenarnya adalah berbagi terhadap sesama.

Sebuah konsep yang menyatukan antara volunteer dan mountaineer,yaitu voluntaineer. Mencintai alam bukan hanya berbagi waktu dengan alam tapi berbagi dengan sesama juga bagian dari mencintai alam dalam level yang sesungguhnya, karena kita semua adalah bagian dari alam. Jadi beginilah konsepnya, memperingati Hari Relawan Nasional dengan aksi long march di alun-alun kota Garut lalu berangkat menuju salah satu desa di kaki gunung Cikuray, membagikan kornet dan alat tulis, serta sebar nasi bungkus, lalu langsung naik Gunung Cikuray dan turun gunung sambil sapu bersih gunung.

Cikuray. Gunung tertinggi di Garut setelah Papandayan dan Guntur, kurang lebih 2818mdpl. Gunung dengan view kebun teh,hutan tropis, track yang merupakan perpaduan dari tanah, akar pohon, dan bebatuan, lalu awan kinton bergelung-gelung di puncaknya. Bukan gunung yang mudah ditakhlukan, empat atau paling lambat enam jam perjalanan menuju puncaknya, tanpa sumber air setelah pos1, walaupun sebenarnya sumber air bisa dicari oleh seorang dengan ’mountaineering ability” yang hebat,namun sangat tersembunyi jauh dari jalur pendakian.

***

Special. Pendakian kali ini sangat spesial, tiga puluh tiga orang yang entah dari mana asalnya aku tak tahu, memakai kaos oranye yang dipunggungnya jika hari sudah gelap maka akan muncul cahaya efek dari fluorescent yang bertuliskan ’Relawan’sungguh keren. Kami hampir tidak pernah bertemu sebelumnya, hanya kami memiliki kesamaan, sama-sama punya kaos oranye yang sama, sama-sama punya kegiatan yang sama tiap bulan, jadi walaupun awalnya tidak saling kenal, tapi pas bertemu kami sangat akrab seperti bertemu saudara jauh. It’sso special.

29 Des2013, dini hari, aku sudah diganggu oleh bunyi handphone, dan tanpa pikir panjang langsung kutekan tombol silence dan handphone-pun berhenti bernyayi. Beberapa menit kemudian ada pesan masuk ”kak yosep dimana? Buruan ke mesjid agung garut!! Jangan tidur.. awas..” pesan dari Dwi, salah satu orang yang bertanggungjawab untuk kegiatan ini. Tanpa pikir panjang lagi, akupun melanjutkan tidur. Walaupun masih terdengar suara pesan masuk berkali-kali.

Briefing. Merasa bersalah karena menghiraukan suara telpon dan sms , aku buru-buru menuju mesjid agung Garut setelah sholat subuh. Dan langsung menggelar briefing yang dipandu oleh Dede, relawan RZ Depok sekaligus kenalan sebelum kegiatan benar-benar dimulai. Jadi begini hasil briefing-nya:

-Jam 8.00 tepat saat momen car  free day kami long march di sepanjang alun-alun garut sampai jam 9.00 –Jam 9.00 sampai jam 10.00 perjalanan baksos dan langsung kebasecamp pendakian gunung Cikuray –istirahat-jam11.00 start nanjak gunung Cikuray. Sungguh rencana yang matang (hahaaa..).

Long march. Ini mungkin bales dendam (haha..)karena aku menghiraukan telpon dan sms tadi malam, aku ditinggal oleh rombongan, karena harus mengambil beberapa barang-barang dan menyiapkan beberapa hal (nyari sarapan, nyari tukang soto juga).

Terlantar. Harusnya jam 9.00 sudah berangkat menuju lokasi baksos, karena salah satu agen transportasi kami tiba-tiba membatalkan kesepakatan jadinya jam 10.56 kami baru berangkat dengan dua mobil pick-up yang kami bajak dari anak-anakKAMMI Garut.

BAKSOS. Bagi-bagi kornet super qurban, beberapa alat tulis dan sebar nasi bungkus, disalah satu desa tepat dikaki Gunung Cikuray,Cilawu. Sudah kukatakan diawal bahwa ini bukan sekedar pendakian biasa, ini voluntaineer, para relawan yang jadi pendaki, maka dsinilah letak perbedaannya.

Nanjak. Dengan track akar-akar pohon yang kusut, tanah, dan sedikit bebatuan membuat kami semua harus memasang gear 4wd (tangan+kakiikutan nanjak) dan semua rombongan lebih mirip spiderman daripada pendaki.

Yang berkesan. Pertama adalah relawan asal depok dan jaktim, aisah yang biasa dipanggil ica dan mega, mengikuti jejak mereka selama pendakian adalah istigfar setiap saat (hahaaa… tobat gue) mereka emang secara fisik belum berpengalaman naek gunung (jadi wajar deh.. butuh pembiasaan). Aku tak menyalahkan mereka, justru bersyukur bisa berkenalan dengan mereka karena telah memberikan pengalaman baru. Pendakian terlama dengan track yang tidak terlalu jauh. Setelah kupikir agak lama akhirnya kukatakan pada mereka

”ica, mega,berhenti dulu, ada sesuatu untuk kalian”

”apa itu kak?” tanya ica,

”?” walau tanpa suara, wajah mega  menunjukan raut tanda tanya.

Dengan nada dramatis, dan sedikit horor karena hari sudah mulai gelap kukatakan pada mereka

”ada sesuatu untuk kalian, ini dia rahasia para pendaki handal, rahasia para pendaki hebat.. hahaaa, rahasia yang bisa bikin kalian jadi jago naek gunung”

Ini dia momen yang seru, menikmati wajah mereka yang capek, penasaran, dan sedikit kesan horor (hahaa..) sambil aku mengeluarkan bungkusan dan pisau.

”apa itu kak? Gak mau ah.. serem..” kata ica

Tak peduli,kuberikan saja pada mereka

”ooOOh..jeli, rahasia pendaki apanya… ini cuman jeli biasa..”

”udah makanaja, ini emang jeli, bukan jeli biasa ini jeli super hahaa.. abis makan jeli InsyaAlloh, gunung manapun bisa kalian daki”

Benar saja setelah beres menikmati jeli, mereka nanjak gunung dengan energi yang baru.yeeaAA…!

Yang ke-dua.Ahmad, KAMMI Garut, Relawan Indonesia, berjuta terimakasih untuk mereka yang sudah membantu pendakian ini. Untuk sekre KAMMI yang diambil alih selama kami di Garut, untuk mobil pick-up yang disiapkan, untuk bantuannya memandu dan meringankan beban pendakian dan hal lainnya yang gak bisa disebutkan. Godbless you.

Yang ke-tiga. Together we strong, baju punya mba Ningsih alias N.N.G, melihat tulisan itu jadi sedikit bertambah semangat (hahaa.. bo’ong deng..) saran buat mba Ningsih, kalo naek gunung pake sepatu yang ada giginya, biar tidak gampang terjatuh ketika berpijak karena ada gigi yang menancap di tanah.

Yang ke-empat. Aji, relawan asal Jaktim yang di tawarin pisang gak mau, tapi akhirnya mau juga makan pisang bareng tapi tetep gak bisa jawab tebak-tebakan ’apa bedanya manusia sama monyet kalo lagi makan pisang?’ nah loh( .. hahaa). Berharap bisa nonton filem 3D bareng di rumah keong taman mini indonesia indah. Lalu Koordinator relawan Jaktim, atikah, yang mentang-mentang tendanya baru terus nyebut ’pasak’ aja jadi ’pancong’ (hahaa.. emangnya kue pancong).

Harimau. Ini perjalanan malem, sekitar jam 11 malem,aku dan a’yuda masih mendaki. Antara pos 6 dan pos 7 tepatnya di pos 6,3 akudan a’yuda mendengar suara makhluk yang sedang beraktvitas di hutan, bunyi gemerisik pepohonan dan patahan ranting,

sresek..sresk..krak..tak

a’yuda menghentikan langkah

”apa tuh a?” tanyaku

”wah gak tau tuh”

Tak lama stelah itu, langsung terdengar suara mengeram yang sangat jelas, horor.HhhrRRRrrrrgh….

”astagfirullah..kayanya harimau nih sef”

”astagfirulloh,yang bener a?”

A’yuda diam, waspada, kami mematikan senter beberapa saat, dan mencoba menghilangkan keberadaan seperti dalam film hunterxhunter. Setelah merasa sudah cukup aman,kami menyalakan senter kembali, dan dengan waspada melanjutkan perjalanan. Horor.

Beruntungnya kota Garut, dijaga oleh tiga bersaudara yang saling menguatkan. Cikuray –Guntur – Papandayan, ketiganya berdampingan berbaris membentuk sebuah contour harmonisasi yang natural. Di puncak Cikuray, 2818 mdpl, Cikuray berkata padaku agar menyampaikan salamnya untuk Guntur dan Papandayan, dengan berat hati aku katakan bahwa mungkin bisa kusampaikan pada Papandayan besok, namun aku belum sempat menemui Guntur, mungkin diwaktu yang lain. Dan setelah turun dari Cikuray, aku langsung menuju Papandayan hanya untuk menyampaikan salam persahabatan mereka.

Raja di Rajabasa

Pria sejati, bagiku ini sangat spesial dan bukan sekedar pujian belaka. Perjalanan kali ini membawaku pada sebuah definisi sesungguhnya dari seorang pria sejati. Fakta dilapangan lebih membuatku tertarik daripada sekedar membaca definisi dari teori-teori yang ada. Maka pria sejati bagiku adalah dia yang dengan sangat suka rela menerima siapapun, memberi tanpa mengharap apapun, berkorban dengan yang terbaik, berusaha dengan tekad baja menepati janjinya, dan membantu siapapun hingga akhir. Hingga akhir aku menekankan pada kata “hingga akhir”, karena banyak orang yang membantu namun sedikit yang dengan sabar membantu hingga akhir. Dialah pria sejati itu.

 

Orang bodoh. Jika kau mengenal seseorang yang lebih memilih melakukan perjalanan jauh, sulit, dan melelahkan karena berjanji untuk bertemu seorang sahabat dan meninggalkan segala urusan kuliahnya, maka akulah orang bodoh itu. Saranku untuk semua wanita terutama muslimah, jangan pernah terlintas dalam fikiran untuk menjadikan orang bodoh itu sebagai calon suami (hahaaa..) dan aku.. biarlah menjadi orang bodoh selamanya, jika orang bodoh itu berarti berusaha menepati janjinya.

 

Menuju Rajabasa 1300mdpl, ceroboh sekali berkendara tanpa membawa jas hujan di bulan Januari, maka beruntung dalam kasus ini adalah harus berkendara berkilo-kilometer sedangkan air terus saja turun dari langit (wet..). Basah kuyup, akhirnya aku dan Haris memutuskan untuk berkunjung ke rumah salah seorang sahabat terbaik kami sekedar untuk berteduh.  Namun aku menjadi sangat merasa tidak enak ketika mengetahui bahwa sahabat kami ini sedang tidak dirumah, itu artinya akan sangat tidak meng-enakan jika harus merepotkan satu keluarga. Aku dengan segera membatalkan kunjungan ini, tapi yang membuatku terkejut adalah sahabat kami ini telah memberitahu orang rumah dan Abah sengaja berkendara menerobos hujan hanya untuk menjemput aku dan Haris.

 

Kopi dan durian, menemani aku, Haris dan Abah bercengkerama di rumah Abah yang sangat bersahaja. Selayaknya seorang ayah kepada anaknya, Abah bertanya maksud dan tujuan aku dan Haris berada di Lampung. Awalnya aku berfikir untuk tidak memberitahukan yang sebenarnya, namun aku berfikir bahwa hidupku sudah cukup sial, maka tak mau ku tambahkan kesialan lagi dengan berbohong pada Abah. Akhirnya kukatakan yang sejujurnya bahwa aku, Haris dan beberapa teman berencana untuk mendaki Gunung Rajabasa. Mendengar itu Abah langsung menghubungi koleganya di Merambung dan  meminta Pa Jarian (kuncen Rajabasa) untuk mengantarkan kami ke puncak Rajabasa.

 

Pagi-pagi sekali aku sudah siap dengan carrier dan semua perlengkapan, begitupun dengan Haris sudah siap dengan dyepack barunya. Aku dan Haris berniat pamit kepada Abah dan keluarga, namun aku dibuat terkejut dengan penampilan Abah yang sepertinya juga telah siap untuk bepergian. Aku bertanya pada Abah “Abah mau pergi kemana?”

“Abah ikut ke Rajabasa” jawabnya

Aku masih ragu dengan jawaban Abah, maka kutanya lagi

“Mau kemana bah?”

“Ikut kalian ke Rajabasa”

Menyadari hal itu aku langsung berkata “Aduh..Abah gak perlu repot-repot mengantarkan kami, insyaAlloh kami bisa jaga diri, mungkin Abah ada kegiatan hari ini atau sedang kurang fit untuk jalan jauh, sebaiknya tak perlu mengantar kami sejauh itu”

Abah hanya diam dan sibuk memakai jaket serta merapihkan tas yang sudah di siapkan untuk perjalanan ini. Aku mungkin cukup pandai untuk mengkondisikan berbagai situasi, namun dalam hal ini aku tak cukup berani dan sanggup untuk mencegah keinginan Abah. Maka aku dan Haris saling pandang dan tersenyum, dan untuk kesekian kalinya aku kembali bertanya “Abah bener mau ikut ke Rajabasa?” Abah hanya diam kemudian menatapku dan tersenyum, sebagai sesama pria aku tahu makna tatapan dan senyuman itu.

 

Gayam, lokasi meetingpoint aku, Haris dan kedua temanku yaitu Wahmi(juleha) dan bang Rozi. Aku, Juleha dan Bang Rozi sebelumnya pernah bertemu di Jambore Nasional Relawan Siaga Nusantara. Entah bagaimana bisa berkumpul kembali padahal jarak sudah memisahkan kita, mungkin persamaan akan kesenangan bertualang membuat kami bertemu kembali. Juleha, akhawat yang sangat tertarik atau lebih tepatnya ketagihan untuk berpetualang, kuharap dia tidak kapok berpetualang denganku karena Rajabasa berhasil membuatnya pucat, namun kuakui dia cukup tangguh. Bang Rozi, paling senior diantara kami secara usia dan tentu saja secara agama, banyak pengalaman mendaki yang sudah dialami olehnya, salut dengan kegigihannya jauh-jauh dari Riau hanya untuk bersusah payah mendaki Rajabasa (gilee hahaaa…).

 

Pendakianpun dimulai, dengan enam personil, aku, Haris, Juleha, Bang Rozi, Abah, dan sang kuncen pa Jarian. Rajabasa berbeda dari gunung lain, walau hanya 1300mdpl tapi pendakian melewati tiga bukit selama kurang lebih enam jam perjalanan membuat gunung ini cukup menantang untuk dikunjungi. Tidak seperti gunung lain yang sudah banyak jalur pendakian, Rajabasa lebih seperti puzzle yang belum selesai disusun atau mungkin seperti labirin, vegetasi yang rapat membuat siapapun bisa saja tersesat di gunung ini. Bagi siapapun yang ingin mencoba mendaki Rajabasa maka dia harus siap dengan serangan dari dua makhluk penghisap darah. Mendaki di musim hujan berarti siap perang dengan puluhan Pacet yang haus darah segar, lalu dimalam hari peperangan belum selesai makhluk ini lebih ganas dari pacet yaitu Nyamuk hutan dengan gigitan yang tajam dan ukuran yang cukup besar… (hahaaa…. gue gilaaa…)

 

Amazing. Walau tantangannya cukup banyak, namun kesan petualangan cukup setimpal. Jika beruntung kau akan berkunjung ke Batu Cukup, batu ajaib yang menurut orang-orang hanya cukup untuk dinaiki enam orang tapi beberapa pendaki membuktikan cukup hingga dua puluh orang, maka sesuai namanya batu cukup, selalu cukup berapapun jumlahnya. Lalu pemandangan garis pantai lampung barat hingga pelabuhan Bakauheni dan samar-samar terlihat pelabuhan Merak di Pulau Jawa jika langit cukup cerah. Amazing.

 

 

Akhirnya kami sampai di kawah Rajabasa, berkemah tepat di samping  Batu Cukup. Abah dan pa jarian hanya mengantarkan sampai kawah, sedangkan aku dan kawan-kawan bermalam di Kawah Rajabasa. Berjuta terimakasih kusampaikan pada Abah, walau baru pertama kali bertemu, aku sudah diperlakukan seperti anaknya sendiri bahkan di antar hingga Kawah Rajabasa. Dari pendakian inilah aku mendapatkan pelajaran paling berharga dan akan terus kusimpan dalam peti harta karun petualanganku. Pelajaran tentang membantu hingga akhir, maka Abah adalah orang yang kumaksud pada paragraf pertama catetan ini.

 

aku & Abah

 

Tersesat. Belum dikatakan mendaki gunung Rajabasa jika kau belum pernah tersesat di gunung ini. Sudah kukatakan tadi bahwa gunung ini lebih mirip puzzle yang belum disusun atau labirin yang terus berubah-ubah. Perjalanan pulang tak semulus ketika mendaki kemarin, Abah dan Pa Jarian sudah turun lebih awal.  Entah dimana aku salah melangkah, tiba-tiba saja jalur hilang dan sadarlah kami bahwa kami benar-benar tersesat. Terus berusaha menemukan jalan kembali, tapi tetap saja sulit vegetasi yang rapat membuat sulit untuk membedakan jalur. Maka aku pasrah dan berdoa kepada Raja seluruh alam, Raja dirajabasa, Alloh swt. Satu jam lebih berlalu akhirnya kami menemukan kembali jalan yang lurus. Senyum – Syukur.

Kisah Cinta Merapi-Merbabu

Jalan. Berjalan kawan. Memutuskan untuk terus berjalan bukan hal yang mudah, karena hanya yang teguh dan bertekad baja sajalah yang mampu memutuskan untuk terus berjalan. Bagaimana hatiku tidak mencelos ketika teman-temanku memutuskan membatalkan pendakian, bayangkan boi, dua dari enam, hanya dua dari enam orang yang tetap melanjutkan langkah menuju Merapi. Tapi walau bagaimanapun aku menghargai keputusan mereka, semoga kita sama-sama bertemu dipuncak sanah. (hahaa…)

 

Gila. Entah setan dari gunung mana yang merasuki diriku, dengan budget, logistik, dan perlengkapan yang minim aku dan Taufik memutuskan tetap berangkat untuk mendaki Gunung Merapi. Dan lebih gila lagi setelah aku tahu kalau aku tidak tahu, maksudku aku dan Taufik tidak tahu bagaimana tempat yang akan kita tuju dan dengan siapa kita akan berinteraksi disanah (bodoh! Kukatakan pada Taufik..)

 

Aku dan Taufik seperti seorang suami yang dicampakan oleh isterinya, lalu dimaki-maki oleh mertuanya dan dilemparkannya asbak rokok kearah wajahku (hahaa..) bagaimana tidak, aku memakai kaos, celana yang lusuh (warnanya sudah pudar), sandal, kaos kaki, dan berkeliaran dikota membawa tas carrier. Kuberitahukan padamu kawan, jika kau melihat orang yang seperti itu di tengah kota maka bermurah hatilah kau padanya, karena dia baru saja dicampakkan oleh isterinya.

 

Jadi begini rutenya boi, dari kota Serang naek bis Murni cukup Rp 6000 (bilang aja mahasiswa) terus turun di Cikokol Tangerang. Dari Cikokol jalan dikit sampe jembatan Cisadane, nah naek bis P100 yang ke St. Pasar Senen Rp 3000. Di Stasiun Pasar Senen (emang bener-bener kayak pasar..) naek kereta yang ke Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta Rp 35.000 lah (ekonomi). Tapi jika memang tidak punya cukup uang, maka pakai kaca mata dan masker, lalu acungkan golok kearah masinis dan berteriak kalau kau sedang membajak kereta ini!

 

Stasiun Lempuyangan. Aku sms mas Ikhsan, salah satu pendaki kenalanku di Jogja.

’mas, Aku udah nyampe Lempuyangan nih, mas dmn?’ klik sent…

’Oh.. iya Aku di depan stsiun nih, aku baju merah yah..’ balesan dari mas Ikhsan

’Aku juga depan stasiun nih, aku baju kuning mas’

’baju kuning banyak, yang mana nih?!’

’baju merah juga banyak, mas yang mana?!’

’Yeee… di tanya malah nanya baik!’

’Aku baju kuning mas, lagi celingak-celinguk kebingungan nyariin mas’

Akhirnya mas Ikhsan mengenaliku, dia menghampiriku sambil tersenyum ramah dan kemudian berkata ’mas abis di campakkan oleh isterinya ya?’ rese… gw masih Jomblo.. (ngomong dalem hati)

 

Akhirnya semua sudah siap. Mungkin biar lebih asyik, aku perkenalkan teman-temanku (yang sangat baik) para pendaki Merapi. Pertama yaitu tiga makhluk cantik penakhluk gunung (he.he..) mereka adalah mba Dian, mba Zaki, dan mba Uli. Merapi bagi mba Zaki adalah pendakian pertama (kuharap sangat berkesan untuknya..). Mba Zaki dan mba Uli terlihat paling lemah diantara kita, namun aku kagum pada mereka, tak pernah keluar sepatah-katapun keluhan dari mulut mereka, hebat! Lalu mba Dian, dia naik dan turun gunung secepat dan selincah kancil yang sedang diburu oleh para pemburu. Gerakannya cepat dan spontan seperti ada bongkahan batu sebesar rumah yang menggelinding jatuh mengejar dia untuk menuruni gunung. Aku diam-diam memperhatikan kakinya dan bertanya dalam hati, mungkinkah dikakinya ada sayap? Atau sendalnya memiliki teknologi canggih sehingga tidak pernah terjatuh saat menggunakannya, beli dimana yah sendalnya?

 

Lalu ada mas Ikhsan dan mas Eri, mereka sepertinya sohib dari lahir. Berjuta terimakasih untuk mereka sebagai penunjang akomodasi pendakian Merapi. Mas Ikhsan, dia sangat ramah dan baik, banyak pelajaran yang kuambil darinya tentang saling menolong dan berkorban (dahsyaat mas!). Mas Eri, jika dia memakai tas carrier lalu memakai kaca matanya, dia ternyata mirip gurunya Goku (jin kura-kura), maka aku meminta mas Eri untuk memanggilkan awan kinton agar pendakian bisa lebih mudah. Lalu mas Eri berteriak ’AWAN KINTOON!’ maka segumpal awanpun datang, dengan spontan aku langsung loncat keatas awan tersebut, dan sial, aku terjatuh. Mas Eri hanya tertawa konyol dan berkata ’hanya orang yang hatinya suci bisa naek awan konton.. dasar bodoh!’

 

Selanjutnya adalah mas Eko, dia adalah pendaki paling keren, banyak gadget yang mendukung pendakian bahkan belakangan aku baru mengetahui kalau ada alat yang bisa menunjukan ketinggian pendakian, temperatur udara, dan penunjuk waktu dalam satu alat (gw udik banget sih..). Akhirnya aku penasaran, apakah salah satu tombol dalam tasnya bila ditekan akan membuat tas itu terbuka kemudian mengeluarkan macam-macam alat lalu mengikuti bentuk tubuhnya dan akhirnya dia berubah menjadi IRONMAN dan terbang dari puncak Merapi menuju puncak Merbabu dalam sekejap.(hehe..)

 

Lalu berikutnya adalah pendaki paling hebat dalam tim ini, mereka adalah Master Ali dan mas Gon. Awalnya aku bingung, apa yang mereka lakukan seperti menyimpan sebuah rencana tersendiri. Maka setelah langit gelap dan bulan menyala dilangit sana, aku melihat dengan aneh jari-jemari Master Ali menunjuk-nunjuk langit seperti sedang melukis langit, ternyata dia adalah seorang ahli nujum. Kusarankan pada seluruh pendaki di Indonesia, jika ingin mendaki gunung sekitar jawa sebaiknya bertanya terlebih dahulu kepada Master Ali, apakah cukup aman untuk mendaki gunung? Jika beliau menjawab ’tidak’ dan menggelengkan kepala itu artinya kau harus tetep mendaki boi.

 

Mas Gon, dia laki-laki penuh motivasi, salah satu kalimat ajaibnya ketika hendak mendaki puncak Merapi yaitu ’Percuma punya cowo ganteng kalau bukan pendaki gunung’ karena aku tidak ganteng, maka aku harus mendaki gunung sebelum mas Gon berkata kembali ’udah jelek, gak mau mendaki gunung lagi, dassar jelek!’ (hahaa..)

 

Pasar Bubrah. Keren banget boi, Pasar Bubrah berada tepat sebelum puncak Merapi. Memiliki view bebatuan cadas, besar, dan panas, sampai aku berfikir apakah dahulu Neil Amstrong ternyata tidak pernah ke Bulan melainkan melakukan syuting di Pasar Bubrah. Ini juga menjadi alasan kenapa Neil Amstrong mendengar suara azan di bulan, karena di Pasar Bubrah suara azan sangat jelas terdengar dari arah kota. Disana kalau pagi cerah maka kau dapat melihat Merbabu, Sumbing-Sindoro, dan Lawu. Kalau malem-malem cocok banget sambil denger mp3 padi Maha Dewi ’hamparan langit maha sempurna, bertahta bintang-bintang angkasa…’. Bertafakur sejenak menyaksikan sebagian kekuasan Alloh SWT, menyadari betapa lemahnya diri ini, memahami kembali siapa diri kita ini.

 

Tertegun menyaksikan Merapi berdiri tegak, bersyukur bisa mengunjungi Merapi. Di puncak Merapi, akhirnya aku mengetahui alasan mengapa Merapi masih saja berdiri tegak, perkasa, walaupun gempa, dan bumi ingin memuntahkan material vulkanik melalui Merapi itu adalah karena Merbabu terlihat sangat anggun dan cantik dari puncak Merapi. Akupun berjanji pada Merapi, akan kukunjungi Merbabu dan menyampaikan perasaan Cinta Merapi kepada Merbabu.